Infotren.id - Siapa sangka, bahan yang selama ini identik dengan aroma mistik dan dupa spiritual ternyata menjadi rahasia di balik parfum mewah dunia. Dalam sebuah pidato pada 14 Juli 2025, Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengungkap bahwa kemenyan, yang sering dipandang sebelah mata adalah bahan baku utama parfum kelas dunia seperti Louis Vuitton dan Gucci. 

Pernyataan ini sontak memicu kehebohan, sekaligus membuka mata banyak pihak akan potensi besar yang tersembunyi di balik getah pohon ini. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan publik benarkah kemenyan dapat dijadikan sebagai baha baku pembuatan parfum-parfum mahal tersebut?

Kemenyan atau benzoin resin adalah getah aromatik yang dihasilkan dari pohon Styrax benzoin. Tanaman ini banyak tumbuh di kawasan Sumatera Utara, Tapanuli, dan Aceh. Di pasar global, kemenyan juga dikenal dalam bentuk lain, seperti frankincense dari pohon Boswellia spp. di Afrika Timur dan Timur Tengah.

Getah kemenyan mengandung berbagai senyawa aromatik penting seperti, Asam benzoat, Vanilin, Eugenol dan Sinamic acid. Senyawa ini sangat dibutuhkan dalam industri parfum sebagai fixative (penahan aroma), sekaligus memberi karakter wangi khas pada parfum dengan nuansa oriental dan woody.

Beberapa rumah parfum dunia seperti Gucci, Dior, hingga Louis Vuitton dikenal menggunakan kemenyan dalam formula parfum mereka. Aromanya yang hangat, manis, dan eksotis membuatnya ideal sebagai bahan dasar parfum berkelas. Namun ironisnya, Indonesia, produsen kemenyan terbesar dunia selama ini hanya mengekspor dalam bentuk mentah.

iklan sidebar-1

Menurut data BPS 2024, Volume ekspor bahan baku tersebut sebanyak 43.000 ton Dnegan nilai ekspor 52 juta dolar AS. Angka ini sebenarnya bisa jauh lebih besar jika Indonesia mampu mengolah kemenyan menjadi minyak esensial sebelum diekspor.

Wapres Gibran mendorong generasi muda untuk mengambil peran dalam hilirisasi kemenyan. Bahkan, direncanakan akan dibangun Pusat Riset Hilirisasi Kemenyan Nasional yang diresmikan oleh Presiden Prabowo pada akhir 2025. Program ini sejalan dengan agenda BRIN dan penguatan riset industri kreatif.

Dengan kualitas bahan baku yang otentik dan branding yang kuat, parfum lokal bisa menyaingi produk internasional, dengan harga lebih terjangkau, tapi tetap eksklusif.***