INFOTREN.ID - Suasana yang biasa ramai oleh sorak-sorai turis dan deru kendaraan kini berganti dengan rintik hujan yang tak henti. Bali sepi. Geliat ekonomi Pulau Dewata yang selama ini mengandalkan pariwisata, tiba-tiba terasa lunglai. Desember ini, awan yang menggantung di langit Bali tidak hanya membawa hujan, tetapi juga membawa kabar lesu: angka kunjungan wisatawan mancanegara merosot tajam di musim puncak Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Data resmi dari Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengkonfirmasi kegelisahan yang sudah dirasakan para pelaku usaha. Kunjungan harian turis asing yang biasanya menyentuh angka 20.000, kini terjun bebas ke kisaran 11.000 hingga 16.000 orang. Namun, apa yang disajikan sebagai penyebab utama—persepsi banjir—mungkin hanyalah lapisan terluar dari sebuah masalah strategis yang lebih dalam. Bali sepi bukan sekadar soal cuaca, melainkan cermin dari sebuah krisis respons dan komunikasi.

Banjir: Alibi yang Nyaman atau Kegagalan Komunikasi?

Keterkaitan antara cuaca dan pariwisata tampak nyata dalam data industri. Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) melaporkan, tingkat hunian vila di kalangan anggotanya anjlok menjadi 55-60%, jauh dari angka 65% tahun lalu. Penyebabnya didominasi oleh pembatalan karena kekhawatiran turis akan banjir.

"Banjir baru-baru ini menyebabkan banyak pembatalan karena orang mengira seluruh Bali terendam. Mereka takut datang," ujar perwakilan BVRMA kepada Kompas. Ketua BVRMA, I Kadek Adnyana, secara terbuka menyayangkan tidak adanya "kontra-narasi" resmi yang terkoordinasi untuk meluruskan kesalahpahaman global yang merusak ini. Narasi "banjir" kini berisiko menjelma menjadi alibi yang menutupi sebuah kemandekan yang lebih parah: kevakuman aksi.

iklan sidebar-1

Kontras Thailand: Aksi Nyata vs. Sikap Pasif

Sementara Bali menyalahkan banjir, Thailand memberikan pelajaran tentang manajemen krisis yang visioner. Berhadapan dengan ancaman nyata akibat ketegangan perbatasan dengan Kamboja, pemerintah Thailand tidak sekadar meratapi situasi. Mereka meluncurkan rencana pemulihan yang konkret dan agresif: membagikan 200.000 kursi pesawat gratis melalui maskapai besar untuk langsung merangsang permintaan dan membangun kepercayaan.

"Thailand menyadari bahwa dalam pasar regional yang kompetitif, persepsi adalah segalanya. Anda tidak bisa hanya menjelaskan masalah; Anda harus berinvestasi agresif untuk mengubah narasi dan memberikan insentif bagi pelancong," jelas Gregorius pengamat pariwisata Bali. "Ketergantungan Bali pada penjelasan 'mis-konsepsi banjir' tanpa kampanye besar yang memulihkan kepercayaan, terlihat pasif dan tidak relevan."

Kepasifan ini dirasakan merata. Anton Abrianto, seorang sopir yang tergabung di platform travel online, mengaku hampir tidak mendapat order. "Hampir sebulan ini saya cuma dapat satu job. Yang punya travel juga pada mengeluh," ujarnya. Bali sepi adalah nyata di jalanan, di lobi hotel yang sepi, dan di vila-vila yang lampunya tidak menyala.