INFOTREN.ID - Aktris Aurelie Moeremans sedang menjadi sorotan publik setelah merilis sebuah buku memoar berjudul "Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah". Buku ini memuat kisah yang sangat personal dan jujur tentang pengalaman hidupnya di masa remaja.
Memoar tersebut resmi dirilis pada 12 Oktober 2025, namun baru viral di awal 2026 karena isinya yang menyentuh dan diangkat dari kisah nyata yang dialami Aurelie sendiri.
Melalui buku "Broken Strings", aktris kelahiran Belgia yang dikenal lewat berbagai iklan, film, sinetron dan musik ini membagikan cerita pahit tentang dirinya yang pernah menjadi korban child grooming, manipulasi, dan kontrol sejak usia belia, serta perjalanan panjangnya menuju pemulihan. Mungkin banyak yang bertanya, apa sebenarnya child grooming, apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.
Dilansir dari ANTARA, 14 Januari 2026, child grooming merupakan pola perilaku manipulatif yang dilakukan orang dewasa untuk membangun kedekatan emosional dan kepercayaan anak, dengan tujuan mengeksploitasi mereka di kemudian hari.
Menurut Psikolog Klinis Anak dan Remaja Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., relasi khusus yang dibangun orang yang usianya lebih tua dengan anak perlu diwaspadai karena bisa menjadi celah child grooming.
“Child grooming itu proses yang mana pelaku membangun relasi khusus dengan anak dan kadang dengan keluarga besarnya, untuk mendapatkan kepercayaan dan membentuk relasi kuasa atau otoritas atas anak, dalam persiapan melakukan tindakan kekerasan (abusive),” terang Gisella kepada ANTARA di Jakarta.
Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan proses child grooming biasanya diawali dengan upaya pelaku menjalin hubungan khusus dengan anak untuk menumbuhkan rasa percaya, seperti memberi hadiah, menggunakan identitas palsu, hingga perhatian di luar proporsi wajar.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja Gisella Tani Pratiwi, M.Psi.. foto: Instagram @gisellatanipratiwi
Kemudian, proses child grooming ditandai dengan eksploitasi kepercayaan yang sudah terbentuk. Dalam hal ini, pelaku mulai mengeksploitasi relasi percaya dengan mengisolasi korban dari lingkungan atau dukungan sosialnya seperti dari teman dekat dan keluarga.


