TANGSEL, INFOTREN – Perseteruan antara UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Yayasan Syarif Hidayatullah kian memanas. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, muncul keluhan terkait dugaan intimidasi terhadap para mantan pengurus yayasan yang hingga kini disebut belum juga berhenti.
Pihak yayasan menyayangkan praktik yang dinilai sebagai bentuk tekanan justru semakin meningkat. Salah satu hal yang dipersoalkan adalah penurunan nilai SKP (Sasaran Kinerja Pegawai), yakni penilaian kinerja tahunan yang secara langsung berdampak pada individu dosen maupun tenaga pendidik.
Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah, Ilham Aufa, menilai kebijakan tersebut bukan hanya berpengaruh pada rekam jejak profesional, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi psikologis para dosen dan tenaga pendidik yang terdampak.
“Penurunan nilai ini terkesan disengaja dan seperti menyandera rekan-rekan yang sejatinya ingin terus memberikan sumbangsih di bidang pendidikan,” ujar Ilham saat menggelar konferensi pers di Kawasan Pamulang, Rabu (18/2/2026).
Situasi tersebut, lanjut Ilham, semakin diperparah dengan adanya pemeriksaan oleh inspektorat. Sejumlah pihak yang diperiksa mengaku merasa diperlakukan layaknya seorang pesakitan dalam proses tersebut.
Menurutnya, kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa polemik kelembagaan telah berdampak langsung pada aspek personal dan perjalanan karier individu.
“Dampak paling terasa dirasakan oleh dosen-dosen senior yang tengah memasuki masa akhir pengabdian,” jelasnya.
Ilham menegaskan, catatan penilaian kinerja yang dinilai kurang baik berpotensi menjadi hambatan serius, terutama bagi mereka yang memiliki peluang untuk naik jabatan akademik menjadi guru besar.
Terlebih, sebagian besar dari mereka kini berada di ambang masa pensiun setelah puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan.

