BADUNG, INFOTREN.ID — Bali tidak kekurangan slogan soal kebersihan. Yang sering hilang justru konsistensinya.
Beberapa waktu lalu, aksi bersih pantai mendadak marak setelah teguran Presiden Prabowo terkait persoalan sampah. Pantai-pantai dibersihkan, kamera merekam, pejabat hadir. Namun seperti banyak agenda reaktif lainnya, gaung itu cepat meredup. Sampah kembali datang. Aksi menghilang. Publik pun lupa.
Di tengah pola yang berulang itu, Minggu sore (5/4/2026), ribuan diaspora asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih jalur berbeda. Tanpa sorotan berlebihan, mereka memenuhi Pantai Jerman, Kuta, memungut sampah yang terus datang tanpa menunggu instruksi.
Bukan sekali. Ini adalah kelanjutan dari aksi sebelumnya di Pantai Legian dan Kuta pada Maret lalu.
Yang menarik, ini bukan sekadar kegiatan sosial. Ini adalah pernyataan.
Belakangan, citra sebagian warga NTT di Bali mulai tergerus oleh sejumlah kasus yang memicu generalisasi. Dalam ruang publik yang mudah menghakimi, identitas kerap disederhanakan menjadi stigma.
Namun komunitas diaspora Alor tampaknya paham satu hal: stigma tidak dilawan dengan klarifikasi, tetapi dengan konsistensi.
“Kami merantau dan hidup di Bali. Prinsip ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ harus diwujudkan lewat tindakan,” ujar Koordinator kegiatan, Yos Koilmo.
Tema yang mereka usung—Ngayah untuk Bali—bukan sekadar slogan kultural. Ia diterjemahkan menjadi kerja fisik: memungut sampah, memilah, dan membersihkan kawasan yang menjadi wajah pariwisata Bali.
Kegiatan ini melibatkan lintas generasi dan komunitas diaspora Alor, dari Bungawaru hingga Kampoeng Alor. Mereka datang bukan sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari ekosistem sosial Bali yang ikut menanggung konsekuensi dari masalah lingkungan.