UBUD, INFOTREN - Di sebuah gang kecil di Jalan Raya Sanggingan, Ubud, tersembunyi sebuah ruang kreatif yang tidak memungut biaya sepeser pun untuk masuk. Tidak ada loket. Tidak ada petugas tiket. Tidak ada pretensi.

Yang ada adalah kegelisahan. Yang ada adalah plastik. Yang ada adalah delapan seniman yang memilih berbicara bukan dengan seminar atau spanduk protes, tetapi dengan karya.

Mereka menyebut diri mereka Junkyard Collective Bali.

Delapan orang — campuran seniman lokal Bali dan asing — telah mengubah sampah menjadi bahasa. Bahasa yang mereka harap bisa didengar oleh siapa saja yang mau berhenti sejenak, melihat, dan merenung.

"Inti dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan sebuah kesadaran," kata Dr. I Made Jodog, M.FA. , akademisi sekaligus seniman yang menjadi salah satu penggerak di balik kolektif ini.

Jodog bukan nama baru di dunia seni rupa Bali. Ia adalah Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Tapi di ruang sempit di Sanggingan itu, ia hanya seorang seniman yang resah.

Dari Pembersihan Sungai ke Medium Seni



Kegelisahan Jodog terhadap sampah dimulai sejak akhir tahun 1990-an. Saat itu, ia dipercaya memimpin organisasi pemuda di desanya. Sungai di bawah rumahnya dipenuhi sampah. Wisatawan yang datang ke Ubud mulai terganggu. Ekosistem mulai rusak.

Ia dan teman-temannya melakukan pembersihan. Mereka menyadarkan warga. Tapi sampah tidak pernah benar-benar pergi.