INFOTREN.ID - Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta perkembangan kondisi perdagangan global.
Menurut Ibrahim, data inflasi inti AS atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Core pada Mei 2025 tumbuh 2,7 persen secara tahunan (YoY), sesuai proyeksi pasar dan lebih tinggi dibandingkan dengan angka pada April. Secara bulanan (MtM), indeks PCE inti juga meningkat 0,2 persen, naik dari 0,1 persen pada bulan sebelumnya.
"Angka tersebut mencerminkan masih tingginya tekanan inflasi di AS, yang pada akhirnya memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat," ujarnya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin, dikutip Infotren dari laman ANTARA pada Senin (30/06/2025).
Sementara itu, data PCE secara keseluruhan tercatat tumbuh 0,1 persen secara bulanan, sesuai dengan perkiraan pasar.
Selain faktor data AS, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh penandatanganan resmi perjanjian dagang antara AS dan China, yang menandai berakhirnya perang dagang kedua negara. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyampaikan bahwa kesepakatan tambahan diperkirakan akan tercapai sebelum batas waktu 9 Juli.
Di sisi lain, kesepakatan perdagangan AS-Inggris yang mulai berlaku pada Senin, 30 Juni 2025, mencakup pengurangan tarif impor mobil hingga 10 persen dan penghapusan bea masuk untuk suku cadang pesawat. Namun, kekhawatiran tetap ada menjelang tenggat 9 Juli yang mungkin membawa kembali tarif atas mitra dagang lain, termasuk bea impor untuk baja dan aluminium secara global.
Sementara itu, dari kawasan Asia, aktivitas manufaktur China kembali mencatat kontraksi selama tiga bulan berturut-turut hingga Juni, dipicu lemahnya permintaan dalam negeri dan penurunan ekspor. Hal ini menambah tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebagai dampak gabungan dari faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah ditutup melemah 44 poin atau 0,27 persen pada perdagangan hari Senin menjadi Rp16.238 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.195 per dolar AS. Meski demikian, kurs JISDOR Bank Indonesia justru mengalami penguatan tipis ke Rp16.231 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya di Rp16.233 per dolar AS.(*)


