INFOTREN.ID - Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah hari ini, Senin (28/04/2025).
Diketahui, pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi oleh adanya kebingungan yang dibuat Presiden AS Donald Trump terkait dialog dan negosiasi kebijakan tarif guna mengurangi perang dagang dengan China.
Presiden AS Donald Trump dengan tegas mengatakan bahwa pembicaraan perdagangan antara AS dan China sedang berlangsung meski tidak menyatakan siapa yang berunding baik dari kedua belah pihak.
Meski demikian, pemerintah China kembali membantah adanya negosiasi dengan AS soal penerapan tarif dagang yang ditetapkan oleh Trump.
Dalam sebuah keterangan pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi udi Jakarta hari ini mengatakan bahwa dampak dari perang dagang AS dan China akan melemahkan pertumbuhan secara global, salah satunya melemahnya nilai tukar (kurs) mata uang Rupiah.
“Pasar telah diguncang oleh sinyal yang saling bertentangan dari Presiden AS Donald Trump dan Beijing mengenai kemajuan apa yang sedang dibuat untuk meredakan perang dagang yang mengancam akan melemahkan pertumbuhan global,” kata Ibrahim Assuabi, seperti dikutip Infotren dari laman ANTARA.
Pada hari ini di Jakarta, nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan semakin melemah, yakni sebesar 26 poin atau 0,15 persen menjadi Rp16.856 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.830 per dolar AS.
Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia perlu melakukan akselerasi yang terencana dalam meningkatkan investasi, kemudian memperluas ekspor ke pasar nontradisional, serta mempercepat transformasi sektor manufaktur dan digital.
“Sebab, Indonesia harus mampu menaikkan laju pertumbuhan secara konsisten setiap tahun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai sekitar 6,76 persen selama periode 2026 hingga 2029 untuk mencapai target tersebut. Sehingga, pemerintah perlu melakukan akselerasi yang terencana dalam meningkatkan investasi, memperluas ekspor ke pasar nontradisional, serta mempercepat transformasi sektor manufaktur dan digital,” lanjut Ibrahim.(*)


