Infotren - Negara dengan produksi minyak terbesar di dunia justru kini tengah menggeber penggunaan mobil listrik secara masif. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa transisi energi bersih telah menjadi fokus utama meski mereka bergelimang cadangan minyak.
Arab Saudi sebagai salah satu produsen minyak utama telah menetapkan target ambisius untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Lewat program Vision 2030, negara ini berinvestasi besar pada kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya.
Langkah serupa juga diikuti Amerika Serikat yang kini menggandakan produksi mobil listrik lokal sambil memberikan insentif bagi konsumen. Pemerintah AS bahkan menargetkan setengah dari mobil baru yang terjual pada 2030 adalah kendaraan listrik.
Accor Umumkan Penandatanganan Mercure Cibadak Sukabumi Resort di Hamparan Hijau yang Asri
Tak ketinggalan, Rusia yang dikenal sebagai eksportir minyak global, juga mulai membangun ekosistem EV di dalam negeri. Mereka memprioritaskan produksi kendaraan listrik lokal untuk mengurangi impor BBM dalam sektor transportasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahkan negara kaya minyak pun menyadari ancaman perubahan iklim dan krisis energi global. Dengan mengembangkan teknologi EV, mereka bersiap menghadapi masa depan tanpa ketergantungan penuh pada minyak.
Penggunaan mobil listrik juga dinilai mampu mengurangi polusi udara dan menciptakan lapangan kerja baru dalam industri hijau. Selain itu, investasi di sektor ini dinilai strategis dalam menghadapi ketidakstabilan harga minyak dunia.
Dari sini terlihat bahwa pergeseran menuju energi bersih bukan hanya milik negara maju tanpa sumber daya fosil. Justru negara penghasil minyak kini menjadi motor perubahan menuju era kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan.


