INFOTREN.ID - Kisah tentang harta karun yang berlimpah, mumi yang diawetkan, dan kematian misterius telah membentuk salah satu legenda paling abadi dalam arkeologi: Kutukan Firaun. 

Kisah ini paling erat kaitannya dengan penemuan Makam Raja Tutankhamun atau "Raja Tut" pada tahun 1922, penemuan yang mengguncang dunia dan memicu desas-desus mistis yang bertahan hingga hari ini.

Penemuan makam Firaun Tutankhamun di Lembah Para Raja oleh arkeolog Howard Carter dan pendanaannya, Lord Carnarvon, adalah berita utama global. 

Makam tersebut ditemukan hampir utuh dan dipenuhi lebih dari 5.000 artefak, termasuk peti mati emas dan topeng kematian ikonik, menjadikannya penemuan arkeologi terbesar saat itu.

Namun, hanya enam minggu setelah kamar makam dibuka secara resmi, insiden tragis terjadi. Lord Carnarvon meninggal dunia secara misterius di Kairo. 

iklan sidebar-1

Kematiannya, yang dikaitkan dengan infeksi akibat gigitan nyamuk saat bercukur, segera dihubungkan oleh media dan publik dengan adanya "kutukan" dari sang Firaun yang terganggu.

Kematian Lord Carnarvon dianggap sebagai korban pertama kutukan. Konon, pada hari Carter membuka makam, seekor kobra (simbol keningratan Mesir) memakan burung kenari peliharaannya.

Beberapa anggota tim penggalian dan orang yang mengunjungi makam, seperti Sir Archibald Douglas-Reid dan A.C. Mace, meninggal dalam beberapa tahun kemudian karena sakit misterius, semakin memperkuat isu kutukan.

Meskipun kisah kutukan ini sangat menarik secara dramatis, para ilmuwan dan ahli modern cenderung menawarkan penjelasan yang lebih rasional, berakar pada sains dan kondisi makam yang tertutup rapat selama ribuan tahun.