INFOTREN.ID - Di balik gemerlap layar dan janji efisiensi, tersembunyi ironi pahit. Chromebook, sang primadona sekolah-sekolah maju, justru menjadi duri dalam daging pendidikan Indonesia. Mengapa demikian? Mari kita telaah lebih dalam.
 
Rongga Realitas: Ketika Sinyal Jadi Mimpi
 
Sudah menjadi rahasia umum, Chromebook adalah perangkat yang terlahir dari rahim internet.
Perangkat ini bernapas dengan koneksi, hidup dalam awan. Tanpa internet yang stabil, Chromebook lumpuh, tak berdaya. Di sinilah jurang pemisah itu menganga lebar.
 
Data Bicara: Hanya sebagian kecil desa di wilayah timur Indonesia yang memiliki akses internet memadai.
Kisah Pilu: Jutaan siswa berjuang keras hanya untuk mendapatkan secercah sinyal, mimpi digital mereka terkubur dalam keterbatasan.
 
Paradoks yang Menyayat Hati
 
Kekuatan terbesar Chromebook ketergantungan pada internet justru menjadi kelemahan fatal di Indonesia. Sebuah paradoks yang menyayat hati, sebuah ironi yang menyesakkan dada.
 
Negara Maju: Internet adalah infrastruktur, bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Indonesia: Internet adalah barang mewah, hanya dinikmati oleh segelintir orang.
 
Menjahit Kembali Mimpi yang Terkoyak
 
Namun, harapan tak boleh padam. Mimpi digital harus terus diperjuangkan.
Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus bersinergi untuk menjembatani kesenjangan ini.
 
Infrastruktur Merata: Prioritaskan pembangunan infrastruktur internet di seluruh pelosok negeri.

Literasi Digital: Tingkatkan literasi digital masyarakat, agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Solusi Lokal: Kembangkan solusi teknologi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal.
 
Merajut Kembali Asa, Meraih Mimpi Bersama
 
Chromebook bukanlah jawaban ajaib untuk semua masalah pendidikan.
Ia hanyalah alat, sebuah instrumen. Keberhasilannya sangat bergantung pada ekosistem yang mendukungnya.

Dengan kerja keras dan kolaborasi, kita bisa merajut kembali asa, meraih mimpi digital bersama. (*)