Infotren.id - Pestapora 2025 yang dikenal sebagai salah satu festival musik terbesar di Indonesia tiba-tiba diliputi suasana muram. Alih-alih hanya menjadi ruang perayaan musik lintas generasi, gelaran ini berubah menjadi sorotan publik setelah sejumlah musisi papan atas memutuskan untuk mundur dari daftar pengisi acara.
Sejak pertama kali digelar, Pestapora dikenal sebagai festival yang merangkul banyak genre, dari pop, indie, hingga musik tradisional. Reputasinya tumbuh sebagai wadah inklusif bagi musisi besar maupun pendatang baru. Tahun 2025 seharusnya menjadi momentum lanjutan dari kesuksesan tahun-tahun sebelumnya. Namun, kehadiran sponsor utama, Freeport, justru memicu kontroversi.
Freeport bukan nama asing dalam industri tambang Indonesia. Perusahaan ini kerap menuai kritik, baik dari aktivis lingkungan maupun masyarakat sipil, terkait dampak aktivitas pertambangan terhadap ekosistem dan komunitas lokal.
Bagi sebagian musisi, keterlibatan Freeport sebagai sponsor dianggap menodai semangat festival yang seharusnya berdiri untuk kebebasan berekspresi, keberagaman, dan keberlanjutan.
1. Masalah lingkungan: Kerusakan ekosistem di Papua dan sekitarnya sering dikaitkan dengan operasi tambang.
2. Isu sosial: Konflik mengenai hak masyarakat adat menambah daftar panjang kontroversi.
3. Kontradiksi nilai: Banyak musisi yang selama ini lantang menyuarakan isu sosial merasa tidak selaras jika tampil di panggung dengan dukungan Freeport.
Mundurnya musisi dari Pestapora 2025 dilakukan secara terbuka melalui pernyataan publik. Sebagian menuliskan alasan mereka di media sosial, sementara lainnya memilih diam namun tidak melanjutkan kontrak tampil. Langkah ini dianggap sebagai bentuk solidaritas dan konsistensi terhadap nilai yang mereka perjuangkan.
Meskipun demikian, beberapa penonton mengaku kecewa karena mereka telah membeli tiket untuk menyaksikan penampilan gemilang dari musisi atau band favoritnya.
Namun, tidak sedikit pula yang justru mengapresiasi sikap musisi, menilai keputusan itu sebagai contoh nyata integritas dan keberanian. Media sosial pun ramai dengan tagar dukungan yang mengaitkan musik dengan perjuangan sosial.
Pihak panitia Pestapora kini menghadapi dilema besar. Di satu sisi, mereka harus menjaga komitmen dengan sponsor yang telah menyuntik dana besar. Di sisi lain, mundurnya musisi populer membuat citra festival terancam, baik secara komersial maupun reputasi.***


