DENPASAR, INFOTREN.ID— Dari kejauhan, Selat Hormuz tampak seperti garis sempit di peta Timur Tengah. Namun bagi Bali, jalur laut itu bisa menjadi titik paling menentukan antara stabilitas dan krisis.

Ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut—melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan sekutunya—kini mulai memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global. Bagi Indonesia, ancaman ini bukan sekadar isu geopolitik. Ia berpotensi menjelma menjadi krisis domestik yang dampaknya menjalar hingga ke daerah yang paling bergantung pada mobilitas global: Bali.

Pemerintah daerah mencoba meredam kekhawatiran. Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan kondisi masih terkendali. “Bali aman,” ujarnya singkat.

Namun di balik pernyataan itu, sejumlah pelaku industri dan pengamat melihat sesuatu yang lebih dalam: risiko yang tidak langsung terlihat, tetapi bisa menghantam dengan cepat dan sistemik.

 Krisis yang Tidak Terasa, Sampai Terlambat

Tulisan yang dikirim oleh Prazuni Firzan Nasution—seorang pemerhati kebijakan publik sekaligus media production fixer berbasis di Bali—menangkap kegelisahan tersebut dengan tepat.

“Ancaman terbesar sering kali datang dari sesuatu yang tidak kita anggap dekat,” tulisnya.

Konflik di Timur Tengah, menurutnya, telah melampaui batas wilayah. Ia kini merembet ke harga energi global, stabilitas rantai pasok, hingga ketahanan ekonomi negara-negara yang bergantung pada impor, termasuk Indonesia.

Dengan konsumsi BBM nasional yang telah melampaui 80 juta kiloliter per tahun dan produksi domestik yang hanya mampu menutup sekitar separuhnya, Indonesia berdiri di atas fondasi yang rapuh. Cadangan operasional energi pun terbatas—kurang dari satu bulan.