Infotren - Indonesia resmi membangun pabrik baterai kendaraan listrik (EV) raksasa sebagai bagian dari transformasi menuju era industri hijau. Proyek ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi RI dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Pabrik ini ditargetkan menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara, mengandalkan cadangan nikel sebagai bahan utama. Namun, ironisnya Indonesia tidak memiliki sumber daya lithium yang krusial dalam komponen baterai EV.
Ketergantungan pada impor lithium membuat Indonesia harus menjalin kerja sama dengan negara lain seperti Australia dan Chile. Hal ini dinilai bisa menghambat efisiensi biaya dan memperlambat produksi dalam jangka panjang.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia tetap optimis karena punya kekuatan di sisi hilirisasi nikel dan kobalt. Kedua unsur tersebut merupakan komponen penting dalam jenis baterai lithium-nickel-manganese-cobalt (NMC).
Pemerintah pun mendorong investor asing untuk membawa teknologi dan sumber lithium ke Indonesia lewat skema kerja sama strategis. Upaya ini diharapkan bisa menutup celah ketergantungan dan mempercepat ekosistem EV nasional.
Meski kekurangan lithium, RI tetap percaya diri menjadi pemain utama industri baterai di kawasan. Dengan dukungan regulasi dan hilirisasi tambang, Indonesia membidik pasar ekspor baterai global dalam beberapa tahun ke depan.
Pembangunan pabrik ini menjadi simbol transisi energi bersih dan kebangkitan industri nasional. Namun, keberhasilan penuh masih tergantung pada kemampuan RI mengatasi keterbatasan sumber daya kritis seperti lithium.


