BADUNG, Infotren.id — Bali tidak sedang kekurangan promosi. Yang mulai
habis adalah toleransi publik terhadap kontradiksi yang terus berulang.
Di Pantai Jerman, Kuta—salah satu wajah pariwisata
Bali—gunungan sampah setinggi sekitar lima meter dilaporkan telah ada sejak
Desember. Bukan sehari, bukan seminggu. Berbulan-bulan.
Temuan ini diangkat oleh jurnalis lapangan dan Ketua Ikatan Wartawan Online Bali, Tri Widiyanti Prasetiyo,
yang mendapati langsung kondisi tersebut serta keluhan wisatawan yang mulai
mempertanyakan satu hal sederhana: mengapa sampah ini tidak pernah benar-benar
hilang?
Bagi wisatawan, ini bukan sekadar pemandangan yang
mengganggu. Ini adalah pengalaman yang merusak.
Beberapa di antaranya mengeluhkan bau menyengat, tumpukan
sampah yang terlihat jelas dari garis pantai, hingga kekhawatiran terhadap
kebersihan lingkungan. Dalam ekosistem pariwisata, kesan pertama adalah
segalanya. Dan di sini, kesan itu bukan tentang pasir putih—melainkan tentang
kegagalan pengelolaan.
Masalahnya bukan baru.
Pantai Jerman, seperti banyak titik lain di Bali, telah lama
menjadi lokasi penumpukan sampah kiriman, terutama saat musim tertentu. Namun
yang menjadi pertanyaan bukan lagi mengapa sampah datang—melainkan mengapa
penanganannya selalu tampak lambat, parsial, dan berulang tanpa solusi jangka
panjang.
Dalam beberapa bulan terakhir, isu sampah kembali menjadi
sorotan nasional, beriringan dengan pemberitaan tentang kriminalitas dan
kekerasan seksual yang ikut membayangi citra Bali. Kombinasi ini bukan sekadar
kebetulan, tetapi akumulasi dari persoalan yang tidak pernah benar-benar
diselesaikan.
Sempat ada respons.