INFOTREN.ID - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memastikan industri otomotif nasional telah siap untuk menerapkan mandatori penggunaan bahan bakar biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada Juli 2026. Kesiapan ini didukung oleh hasil uji coba jalan (road test) yang berjalan lancar dan penguatan ekosistem manufaktur dalam negeri.
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyatakan bahwa seluruh pelaku industri otomotif telah siap mendukung implementasi kebijakan tersebut. "Industri otomotif sudah siap mengimplementasikan B50, dan road test untuk B50 berjalan lancar dan baik," ujar Putu Juli Ardika di Jakarta, Senin (13/7), mengutip Antara.
Putu menjelaskan bahwa kesiapan penerapan B50 ditopang oleh perkembangan industri otomotif nasional yang terus menunjukkan tren positif. Ekosistem manufaktur dinilai semakin matang, mampu menopang implementasi kebijakan penting ini. Ia menambahkan bahwa kendaraan produksi Indonesia kini telah diekspor ke berbagai negara, menunjukkan peningkatan daya saing industri otomotif nasional di pasar global.
Dalam upaya memperluas pasar, industri otomotif Indonesia juga berpartisipasi dalam INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, pada 6–9 Juli 2026. Pameran ini diharapkan membuka peluang kerja sama dengan negara-negara Eurasia. "Ekosistem industri otomotif sudah berjalan bagus. Kita juga menawarkan kalau dibutuhkan komponen-komponen karena kita banyak ekspor komponen. Sehingga itu akan sangat bagus untuk mendukung industri otomotif maupun purna jual yang ada di negara-negara Eurasia," katanya.
Putu menegaskan bahwa perbedaan spesifikasi kendaraan, termasuk posisi kemudi, bukan menjadi hambatan bagi industri otomotif Indonesia. Industri nasional memiliki pengalaman dalam menyesuaikan produk sesuai kebutuhan negara tujuan ekspor. Selain kendaraan, Indonesia juga memiliki kapasitas ekspor komponen otomotif yang besar, yang dinilai dapat mendukung pengembangan industri otomotif dan layanan purna jual di kawasan Eurasia.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama dalam pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit. Potensi ini diperkuat melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional dengan Rusia serta negara-negara Eurasia. "Melalui inovasi, hilirisasi, dan kerja sama internasional, kami ingin menjadikan industri sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sebagai bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan," ujar Agus.
Pada 7 Juli 2026, Indonesia juga mengikuti forum Palm Oil and the Future of Sustainable Energy dalam rangkaian INNOPROM 2026. Dalam forum tersebut, pemerintah memperkenalkan kesiapan industri sawit nasional untuk mendukung transisi energi global, termasuk program utama mandatori biodiesel B50. Pemerintah juga memperkenalkan kebijakan pendukung seperti peremajaan kebun rakyat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan teknologi biodiesel.
Dengan kesiapan yang telah dipastikan Gaikindo, implementasi mandatori biodiesel B50 diharapkan berjalan optimal, sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif nasional dan mendukung target transisi energi Indonesia.