INFOTREN.ID - Air muncrat ke udara. Tawa pecah di tengah kerumunan. Tubuh boleh basah, namun jiwa justru terasa lebih ringan. Itulah suasana khas yang selalu hadir setiap awal tahun di Desa Adat Suwat, Gianyar. Sebuah tradisi tua kembali hidup, membangkitkan harapan baru bagi warga dan siapa pun yang menyaksikannya.
Siat Yeh, Ritual Awal Tahun yang Dinanti
Desa Adat Suwat kembali menggelar Tradisi Siat Yeh atau Perang Air sebagai puncak Festival Air Suwat (FAS) yang memasuki penyelenggaraan ke-10. Tradisi yang digelar setiap 1 Januari ini telah menjadi agenda budaya sekaligus daya tarik publik yang menyatukan warga desa, perantau, hingga wisatawan.
Dilansir dari Bali Post (1/1/2026), Siat Yeh bukan sekadar atraksi, melainkan ritual simbolik yang dimaknai sebagai proses pembersihan diri dari pengaruh negatif tahun sebelumnya, sekaligus penanda kesiapan menyambut lembaran baru dengan energi yang lebih positif.
Air sebagai Simbol Pembersihan Diri
Rangkaian ritual diawali dengan prosesi mendak tirta, pengambilan air suci yang menjadi elemen utama dalam pelaksanaan Siat Yeh. Air tersebut kemudian digunakan dalam ritual perang air yang dilakukan secara massal di pusat desa.
Air, dalam filosofi Bali, bukan hanya unsur alam, tetapi lambang kehidupan, kesucian, dan keseimbangan. Melalui Siat Yeh, masyarakat Suwat menegaskan kembali hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Seni, Tradisi, dan Spiritualitas yang Menyatu
Sebelum prosesi perang air dimulai, masyarakat dan pengunjung disuguhi Fragmen Tari Kamandalu, sebuah pementasan yang sarat pesan simbolik tentang kekuatan air sebagai sumber kehidupan dan pembersih jiwa.


