Infotren.id - Film Pengepungan di Bukit Duri karya Joko Anwar adalah karya yang patut mendapatkan perhatian besar. Sebagai film ke-11 dari sutradara yang telah berkarir lebih dari 20 tahun, film ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebuah karya yang menyentuh isu-isu sosial yang sangat relevan dengan keadaan masyarakat Indonesia. Berikut adalah beberapa alasan mengapa film ini wajib ditonton:

1. Mengangkat Isu Sensitif dengan Berani

Salah satu kekuatan utama film ini adalah keberanian Joko Anwar dalam mengangkat topik yang sangat sensitif di Indonesia, yakni diskriminasi rasial dan budaya kekerasan. Dengan latar belakang distopia masa depan, film ini menggambarkan sebuah Indonesia yang penuh dengan konflik rasial yang memicu kekerasan. Tema ini mengingatkan penonton tentang pentingnya kesadaran sosial dan bahaya dari ketidakpedulian terhadap perbedaan. Film ini mampu membuka mata dan menyadarkan kita akan potensi bahaya yang mengintai jika kita tidak berubah.

2. Cerita yang Menarik dan Intens

Mengambil latar di tahun 2027, film ini menceritakan tentang seorang guru bernama Edwin yang berjuang mencari anak dari kakaknya yang menjadi korban diskriminasi rasial. Cerita ini mengalir dengan penuh ketegangan, di mana karakter utama terjebak dalam situasi berbahaya yang memperlihatkan bagaimana diskriminasi dapat memicu kekerasan tanpa ampun. Penggambaran konflik yang sangat intens, ditambah dengan adegan perkelahian yang tidak terduga, membuat film ini semakin memukau.

iklan sidebar-1

3. Penggambaran Karakter yang Kuat

Karakter-karakter dalam "Pengepungan di Bukit Duri" sangat mendalam dan penuh nuansa. Edwin, yang diperankan oleh Morgan Oey, adalah karakter yang tegas namun penuh dengan trauma dari masa lalu. Di sisi lain, Jeffrey, yang diperankan oleh Omar Estégal, menjadi antagonis dengan karakter psikopat yang sangat menakutkan. Akting Omar Estégal luar biasa dalam menggambarkan karakter yang sadis dan tidak terkontrol. Dinamika antara Edwin dan Jeffrey membuat film ini semakin menarik dan menggugah penonton.

4. Kritik Sosial yang Kuat

Film ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga sebuah kritik sosial yang tajam terhadap kondisi sosial-politik Indonesia. Joko Anwar menggambarkan bagaimana negara bisa jatuh ke dalam distopia jika tidak ada perubahan dalam cara kita melihat dan menghargai perbedaan. Film ini mengajak penonton untuk merenung, mempertanyakan sikap terhadap kekerasan, diskriminasi, dan bagaimana kita berperan dalam menjaga kedamaian dan keadilan.