INFOTREN.ID - Situasi geopolitik global yang semakin dinamis memaksa Ukraina untuk segera memutar otak dalam mempertahankan dukungan internasional. Pergeseran fokus diplomasi Amerika Serikat (AS) kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas pertahanan Kyiv di tengah agresi Rusia yang belum mereda.

"Para negosiator perdamaian dari Amerika Serikat saat ini tidak memiliki waktu untuk urusan Ukraina karena adanya ketegangan perang yang melibatkan Iran," ungkap Volodymyr Zelensky dilansir dari media penyiaran publik Jerman, ZDF.

Ketegangan di Timur Tengah tampaknya telah menyedot sumber daya diplomatik Washington secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini berdampak langsung pada kelancaran koordinasi militer dan kecepatan pengiriman bantuan yang sangat dibutuhkan oleh pasukan di garis depan.

Zelensky secara spesifik menyoroti peran dua tokoh kunci dalam lingkaran negosiasi tersebut, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner. Keduanya diketahui memiliki peran strategis dalam menjembatani komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai untuk mencapai kesepakatan.

"Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang sebelumnya membantu mediasi dengan Moskow untuk mengakhiri perang di Ukraina, kini terus-menerus melakukan pembicaraan intensif dengan pihak Iran," kata Volodymyr Zelensky.

Presiden Ukraina tersebut memandang kedua tokoh ini sebagai sosok yang sangat pragmatis dalam menjalankan misi diplomatik mereka. Namun, sikap pragmatis ini dikhawatirkan dapat mengaburkan urgensi penyelesaian konflik di wilayah Eropa Timur.

"Mereka berdua sedang mencoba untuk mendapatkan perhatian lebih besar dari Presiden Putin demi mengakhiri perang melalui jalur-jalur negosiasi tertentu," tutur Volodymyr Zelensky.

Gangguan pada pengiriman senjata menjadi kekhawatiran utama yang disampaikan oleh pemimpin Ukraina tersebut dalam wawancara terbarunya. Tanpa komitmen waktu dan perhatian yang penuh dari sekutu utama, strategi pertahanan Ukraina berisiko mengalami kendala teknis yang serius.

Sebagai solusi praktis, Ukraina perlu memperkuat lobi diplomatik di tingkat kongres dan mulai mencari alternatif dukungan dari negara-negara blok Eropa lainnya. Diversifikasi sumber bantuan menjadi langkah strategis agar pertahanan negara tidak hanya bergantung pada dinamika politik di Washington.