INFOTREN.ID - Perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu menemui jalan buntu signifikan. Salah satu isu utama yang memicu ketegangan adalah mengenai program pengayaan uranium milik Republik Islam Iran.

Isu penghentian program nuklir ini menjadi titik perselisihan krusial antara delegasi Iran dan Amerika Serikat dalam pertemuan tersebut. Kegagalan mencapai kesepakatan bersama lantas berujung pada reaksi tegas dari pihak Washington.

Presiden AS Donald Trump diketahui langsung memerintahkan pemberlakuan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan yang berada di wilayah Iran sebagai respons atas kebuntuan diplomatik tersebut. Langkah ini mempertegas ketegangan yang sudah ada antara kedua negara.

Iran dilaporkan telah mengajukan tawaran konkret mengenai durasi penangguhan aktivitas pengayaan uranium mereka. Tawaran tersebut adalah pembekuan program tersebut untuk jangka waktu lima tahun ke depan.

Namun, permintaan dari Amerika Serikat jauh lebih panjang dan menuntut komitmen yang lebih besar dari Teheran. AS bersikeras agar Iran menangguhkan kegiatan pengayaan uraniumnya selama periode waktu dua dekade penuh, yakni selama 20 tahun.

Informasi mengenai perbedaan tuntutan durasi ini berhasil diungkapkan ke publik baru-baru ini. Hal ini terungkap setelah adanya laporan mendalam dari media terkemuka Amerika Serikat.

Informasi mendetail mengenai perbedaan penawaran tersebut dilansir dari TRT World pada hari Selasa, tanggal 14 April 2026. Sumber utama dari berita ini adalah laporan yang dipublikasikan oleh New York Times (NYT).

"Iran disebut menawarkan pembekuan pengayaan uranium selama lima tahun, namun AS mendesak Teheran untuk menangguhkan pengayaan selama 20 tahun," demikian bunyi salah satu poin kunci dari laporan tersebut.

Media tersebut mendapatkan informasi ini setelah melakukan wawancara dengan sejumlah pejabat tinggi baik dari pihak Amerika Serikat maupun dari Iran. Hal ini memberikan validitas lebih pada perbedaan posisi kedua belah pihak.