INFOTREN.ID - Ketegangan diplomatik kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat terkait perhitungan biaya konflik yang melibatkan AS. Tudingan ini dilontarkan oleh pejabat tinggi Republik Islam Iran mengenai transparansi data keuangan perang.

Secara spesifik, tuduhan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari Jumat pekan ini. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap narasi resmi yang dikeluarkan oleh pihak Washington mengenai pengeluaran militer mereka.

Poin utama dalam kritik Iran adalah dugaan bahwa angka resmi AS mengenai biaya perang jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Iran mengklaim bahwa beban finansial yang sebenarnya ditanggung oleh AS jauh lebih masif daripada yang diumumkan secara publik.

Abbas Araghchi secara gamblang menyatakan bahwa perhitungan yang selama ini disajikan oleh Amerika Serikat tidak mencerminkan besaran kerugian finansial yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksepakatan fundamental mengenai metodologi perhitungan biaya tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran tersebut menuding bahwa angka resmi yang selama ini dipublikasikan oleh AS secara signifikan meremehkan beban keuangan yang ditanggung oleh negara tersebut. Klaim ini mengindikasikan bahwa Iran memiliki data estimasi yang berbeda.

"Amerika Serikat salah menggambarkan biaya perang yang mereka tanggung," ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, merujuk pada data yang dirilis Washington.

Lebih lanjut, Araghchi menegaskan bahwa angka resmi yang dipublikasikan oleh AS tersebut tidak akurat dan cenderung menyembunyikan skala sebenarnya dari pengeluaran tersebut. Ia menekankan pentingnya transparansi penuh dalam masalah sensitif ini.

"Angka resmi yang dipublikasikan secara signifikan meremehkan beban keuangan yang sebenarnya," kata Abbas Araghchi, menekankan perbedaan antara klaim resmi dan realitas di lapangan.

Dikutip dari sumber berita terkait, pernyataan tegas ini menjadi bagian dari upaya Iran untuk menyoroti dampak jangka panjang dari kebijakan luar negeri dan intervensi militer AS di berbagai belahan dunia.