DENPASAR, INFOTREN.ID — Politisi Gede Pasek Suardika melontarkan kritik keras terhadap kebijakan penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang dinilai tidak disertai solusi konkret, serta memunculkan pertanyaan serius tentang arah kebijakan pembangunan di Bali.

Dalam wawancara di Denpasar, Selasa (29/4), Suardika secara terbuka mempertanyakan siapa pihak yang paling diuntungkan dari kebijakan tersebut—dan mengaitkannya dengan pengembangan proyek Bali Turtle Island Development (BTID) di kawasan Serangan.

“Siapa yang paling diuntungkan dari penutupan TPA Suwung? Mereka yang punya lahan di sekitarnya. Pemandangan berubah dari gunung sampah jadi bagus. Otomatis kawasan BTID,” tegasnya.

Menurutnya, logika di balik kebijakan itu sulit diabaikan. Kawasan pariwisata dan investasi tidak mungkin berkembang berdampingan dengan krisis sampah yang terlihat nyata.

“Investasi hospitality tidak mungkin berdampingan dengan gunung sampah. Itu pasti akan dihilangkan. Tapi pertanyaannya: ketika dihilangkan, sudahkah ada solusi? Atau rakyat dibiarkan menanggung akibatnya?” ujarnya.

Kebijakan Buka-Tutup, Rakyat Menanggung Dampak

GPS menyoroti pola kebijakan yang dinilainya inkonsisten—TPA ditutup, dibuka kembali, lalu ditutup lagi—tanpa kejelasan arah.

“Ini seperti penjaga gerbang. Tutup, buka, tutup lagi. Tapi sampahnya mau dibawa ke mana? Rakyat yang bingung,” katanya.

Menurut dia, situasi ini menunjukkan lemahnya perencanaan. Kebijakan berjalan, tetapi sistem pengganti belum siap.