INFOTREN.ID - Penghargaan bergengsi berhasil diraih sutradara dan penulis skenario Indonesia, Joko Anwar. Ia resmi dianugerahi tanda kehormatan Chevalier (Knight) of the Ordre des Arts et des Lettres oleh Pemerintah Prancis, dalam sebuah upacara yang berlangsung di Gedung Kementerian Kebudayaan Prancis, Paris, pada Kamis, 11 Desember 2025, waktu setempat.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi, kontribusi, dan komitmen Joko Anwar dalam dunia sinema, yang dinilai telah memberikan dampak signifikan bukan hanya bagi perfilman Indonesia, tetapi juga bagi lanskap sinema global.

Pencapaian membanggakan itu dibagikan pria kelahiran Medan, 3 Januari 1976 ini di akun Instagramnya, @jokoanwar. Penghargaan ini merupakan salah satu bentuk pengakuan tertinggi dari Kementerian Kebudayaan Prancis kepada seniman, penulis, pembuat film, musisi, dan tokoh budaya lainnya

Gelar ini diberikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Perancis Rachida Dati di Kementerian Budaya Perancis. Gelar ini bagi saya bukan pencapaian pribadi, tapi merupakan bentuk pengakuan pemerintah Perancis terhadap kemajuan dan kontribusi para seniman Indonesia untuk dunia,” tulis Joko dalam unggahannya pada Jumat, 12 Desember 2025.

Joko Anwar dapat penghargaan dari pemerintah Prancis berkat dedikasi, kontribusi, dan komitmennya dalam dunia sinema. foto: Instagram @jokoanwar

Beberapa seniman yang pernah menerima Ordre des Arts et des Lettres termasuk David Lynch, Tim Burton, Pedro Almodóvar, Isabelle Huppert, Meryl Streep, Cate Blanchett, Tilda Swinton, David Bowie,” sambungnya.

Joko Anwar mendapatkan pengakuan artistik dan komersial untuk film-filmnya dalam kurun 20 tahun berkarya, bukan hanya di Indonesia, tapi juga berbagai belahan dunia. Baik itu diputar di festival bergengsi maupun box office di sejumlah negara.

Penghargaan ini datang di tengah persiapan Joko merilis film terbarunya, Ghost in the Cell, yang dijadwalkan tayang pada 2026 mendatang

Film ke-12 darinya tersebut merupakan sebuah horor-komedi yang menggunakan latar penjara sebagai metafora, sekaligus mengangkat isu kerusakan lingkungan, kekuasaan, dan tanggung jawab moral melalui pendekatan genre yang khas.