INFOTREN.ID - Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang selama ini dikenal memiliki etos kerja yang sangat tinggi, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat beban tugasnya. Isu ini menjadi sorotan publik setelah pengakuan pribadinya terungkap ke media massa.

Keluhan utama yang disampaikan oleh orang nomor satu di pemerintahan Jepang tersebut adalah terkait dengan minimnya waktu istirahat yang ia miliki. Ia dilaporkan kesulitan mendapatkan waktu tidur yang cukup selama menjalankan tugas kenegaraan.

Selain masalah tidur, Takaichi juga menyampaikan kesulitan dalam mengatur jadwal makannya secara teratur. Ini menunjukkan betapa padatnya agenda harian yang harus ia hadapi dalam menjalankan mandat sebagai kepala pemerintahan.

Informasi mengenai kondisi fisik dan jadwal PM Takaichi ini pertama kali diungkapkan oleh seorang politisi senior Jepang. Hal ini terjadi setelah pertemuan resmi antara kedua tokoh politik tersebut di Jepang.

Politisi veteran Jepang, Akira Amari, menjadi pihak yang mempublikasikan pengakuan tersebut. Pengungkapan ini terjadi setelah ia melakukan pertemuan dengan Takaichi pada hari Kamis, 23 April waktu setempat.

Dikutip dari Japan Today dan Kyodo, kabar mengenai keluhan PM Jepang ini mulai tersebar luas pada hari Jumat, 24 April 2026. Hal ini memberikan gambaran tentang tekanan yang dihadapi oleh pemimpin negara tersebut.

Masa jabatan Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri Jepang telah berjalan selama enam bulan terakhir sejak ia dilantik pada Oktober tahun sebelumnya. Selama periode ini, ia memimpin partai yang berkuasa.

Saat terpilih menjadi Perdana Menteri wanita pertama Jepang, Takaichi telah menegaskan komitmennya yang kuat terhadap dedikasi kerjanya. Ia sempat berjanji untuk fokus pada kerja keras tanpa henti.

Takaichi pernah menyatakan tekadnya dengan mengatakan, "Saya berjanji untuk 'kerja, kerja, kerja, kerja, dan kerja'," ujar politisi tersebut saat awal menjabat. Pernyataan ini kini menjadi kontras dengan keluhannya saat ini.