INFOTREN.ID - Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel kembali menjadi sorotan tajam setelah munculnya pernyataan kontroversial dari pihak Teheran. Kritik ini mencuat di tengah dinamika politik global yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah belakangan ini.
Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, melontarkan sindiran pedas terkait kedekatan otoritas Washington dengan pemerintahan Tel Aviv. Ia menilai bahwa kebijakan luar negeri yang dijalankan oleh Amerika Serikat saat ini tidak lagi mencerminkan sebuah negara yang berdaulat penuh.
"Gedung Putih tidak lagi bertindak sebagai entitas independen dalam kebijakan luar negerinya, melainkan telah berubah menjadi semacam cabang pelapor bagi Israel," ujar Mohammad Reza Aref.
Pernyataan keras tersebut diunggah oleh Aref melalui akun media sosial X miliknya pada hari Selasa (14/4). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perkembangan terbaru mengenai interaksi antara pejabat tinggi kedua negara sekutu tersebut.
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebutkan adanya koordinasi intensif dengan pihak Amerika Serikat. Netanyahu mengklaim bahwa komunikasi tersebut dilakukan secara rutin dan terjadwal layaknya sebuah pelaporan formal.
"Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memberikan laporan kepada saya dalam perjalanan pulang dari Islamabad, sebagaimana rutinitas yang ia lakukan setiap hari," kata Benjamin Netanyahu.
Fenomena ini dianggap sebagai preseden yang tidak biasa dalam tata kelola hubungan internasional antarnegara besar. Secara analitik, laporan rutin dari pejabat tinggi negara adidaya kepada pemimpin negara lain menunjukkan adanya pergeseran hierarki dalam aliansi mereka.
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang pejabat senior pemerintah memberikan pengarahan harian kepada kepala negara lain," tulis Mohammad Reza Aref sebagaimana dilansir dari Press TV.
Informasi mengenai kritik tajam dari pihak Teheran ini dipublikasikan secara luas pada hari Rabu (15/4/2026). Laporan tersebut menyoroti bagaimana persepsi Iran terhadap aliansi strategis yang kini dianggap sudah terlalu timpang dan tidak wajar.