INFOTREN.ID - Gerakan Hizbullah melalui salah satu petinggi mereka telah menyuarakan penolakan keras terhadap rencana pertemuan antara delegasi Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat. Sikap ini mengindikasikan adanya keraguan besar terhadap efektivitas jalur diplomasi saat ini.

Naim Qassem, yang merupakan salah satu pemimpin senior Hizbullah, secara eksplisit menyebut bahwa agenda perundingan tersebut diprediksi hanya akan berakhir tanpa pencapaian yang berarti. Pandangan ini didasarkan pada kondisi keamanan yang masih memanas di perbatasan kedua negara.

Menurut sumber berita internasional, pandangan ini disampaikan Qassem pada hari Selasa, 14 April 2026. Informasi mengenai penolakan tersebut kemudian menyebar luas melalui berbagai saluran media.

Dilansir dari kantor berita Al Jazeera, Qassem menyoroti bahwa intensitas serangan militer oleh Israel terhadap wilayah Lebanon tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Kondisi ini menjadi dasar utama keraguan mereka terhadap keseriusan dialog.

Qassem menegaskan bahwa selama bombardir oleh militer Israel masih terus berlangsung, setiap upaya dialog yang dilakukan akan kehilangan relevansinya. Hal ini menunjukkan prioritas Hizbullah pada penghentian agresi sebelum pembicaraan damai dapat dilaksanakan.

Beliau secara lugas menyatakan bahwa perundingan tersebut dipandang sebagai sebuah kesia-siaan belaka. Pernyataan ini disampaikan untuk memberikan peringatan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam perencanaan pertemuan di AS tersebut.

Lebih lanjut, pemimpin Hizbullah tersebut menambahkan bahwa pihak Israel justru mengambil langkah untuk mengintensifkan serangan mereka terhadap Lebanon. Eskalasi serangan ini semakin memperkuat argumen bahwa waktu yang dipilih untuk negosiasi kurang tepat.

"Perundingan ini hanya akan menjadi upaya sia-sia," kata Naim Qassem, menggarisbawahi bahwa pasukan Israel terus meningkatkan intensitas serangan mereka terhadap Lebanon.

Kutipan ini menjadi penekanan utama bahwa tanpa adanya perubahan nyata di lapangan, khususnya penghentian serangan, semua upaya diplomatik akan dianggap sebagai pemborosan waktu dan sumber daya, ujar Qassem.