INFOTREN.ID - Nama Thomas Djiwandono kembali menguat di ruang publik. Sosok dalam profil tokoh di bidang ekonomi nasional ini resmi menempati kursi Deputi Gubernur Bank Indonesia, membawa rekam jejak panjang, ekspektasi tinggi, dan harapan baru bagi Bank Indonesia serta arah ekonomi nasional ke depan.

Pelantikannya bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan sinyal penting tentang bagaimana negara menyiapkan figur strategis di jantung kebijakan moneter.

Latar Keluarga yang Tak Terpisahkan dari Sejarah

Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono lahir di Jakarta, 7 Mei 1972. Ia tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan dunia ekonomi dan kekuasaan negara. Ayahnya, Soedradjad Djiwandono, dikenal sebagai mantan Gubernur Bank Indonesia, sementara ibunya merupakan kakak kandung Presiden Prabowo Subianto.

Dilansir dari berbagai sumber nasional (9/2), latar keluarga ini membuat Thomas sejak dini bersentuhan dengan diskursus kebijakan publik, stabilitas ekonomi, dan dinamika kekuasaan negara. Namun, publik juga mencatat bahwa perjalanan kariernya ditempuh melalui jalur profesional dan pendidikan formal yang panjang.

Pendidikan Global, Perspektif Internasional

iklan sidebar-1

Thomas mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, termasuk di Johns Hopkins School of Advanced International Studies (SAIS), salah satu institusi bergengsi di bidang ekonomi dan hubungan internasional.

Bekal akademik tersebut membentuk cara pandangnya yang global, analitis, dan terbiasa membaca risiko ekonomi lintas negara merupakan sebuah modal penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia yang kian kompleks.


Thomas Djiwandono, mantan Wamenkeu keponakan Presiden Prabowo yang jadi Deuti Gubernur Bank Indonesia. (Foto Nurul F/JawaPos)

Dari Kemenkeu ke Bank Sentral