INFOTREN.ID - Dua bulan telah berlalu sejak eskalasi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel, sebuah periode yang membawa perubahan signifikan dalam lanskap politik Republik Islam tersebut.

Perubahan mendasar yang terjadi adalah hilangnya figur ulama yang memiliki otoritas tak terbantahkan di posisi puncak kekuasaan Iran saat ini.

Kondisi ini menandai sebuah titik balik yang cukup mendadak dibandingkan dengan periode kepemimpinan sebelumnya yang lebih mengandalkan figur sentral keagamaan.

Pergeseran struktur kekuasaan ini diperkirakan akan berdampak besar pada pendekatan Teheran ke depan, terutama dalam pembahasan mengenai kemungkinan dialog baru dengan Washington.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang kini memegang kendali utama dalam pengambilan keputusan strategis di Iran, mengingat berkurangnya peran penengah ulama yang karismatik.

Kekuatan utama yang kini tampak menonjol dalam menentukan arah kebijakan Iran bukanlah figur politik seperti Mojtaba Khamenei, melainkan institusi militer yang sangat berpengaruh.

Institusi yang dimaksud adalah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang secara efektif menjadi pilar utama dalam mempertahankan stabilitas dan kebijakan luar negeri negara tersebut.

Dikutip dari sumber berita, "Iran kini tidak lagi memiliki satu pun penengah ulama yang tak terbantahkan di puncak kekuasaan dua bulan setelah perang dengan AS dan Israel," menggarisbawahi adanya kekosongan kepemimpinan spiritual yang terpusat.

Situasi ini, lanjut sumber tersebut, "mungkin memperkeras sikap Teheran saat mempertimbangkan pembicaraan baru dengan Washington," mengindikasikan potensi negosiasi yang lebih sulit.