INFOTREN.ID - Bencana abrasi di pesisir Pantai Monggalan, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, dilaporkan semakin meluas akibat intensitas gelombang tinggi. Fenomena ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut, terhitung sejak tanggal 16 hingga 18 Mei 2026.

Dampak langsung dari hantaman ombak tersebut adalah perendaman rumah-rumah warga yang masih berada di bibir pantai. Selain itu, beberapa pohon besar yang tumbuh di sepanjang garis pantai dilaporkan tumbang akibat terjangan air laut yang kuat.

Pengikisan daratan di Pantai Monggalan ini sebenarnya telah menjadi masalah yang terus berkembang sejak tahun 2024. Namun, gelombang tinggi pada pertengahan Mei 2026 ini diperkirakan telah menyebabkan erosi pantai mencapai jarak sekitar 100 meter.

Kondisi yang makin memburuk memaksa penduduk setempat untuk mengambil langkah darurat, yaitu mengungsi pada malam hari saat air laut mulai memasuki area pemukiman mereka. Mereka baru berani kembali ke rumah masing-masing pada pagi harinya.

Salah satu warga pesisir, Ketut Candra Arsadi (58), menyampaikan bahwa puncak intensitas ombak yang paling merusak terjadi pada hari Senin, 18 Mei 2026. "Yang terbesar kemarin ini. Air masuk, pohon besar di pinggir pantai tumbang. Malamnya kami mengungsi. Paginya baru kembali ke sini," kata Ketut Candra Arsadi.

Rumah milik Candra saat ini menjadi bangunan paling ujung di pesisir pantai yang masih bertahan dari amukan abrasi, berdiri di atas lahan seluas 10 are. Ia berharap adanya penanganan cepat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

"Sudah banyak rumah yang rusak dan dimakan abrasi. Semoga segera ada pemasangan tanggul agar tidak meluas," ujar Ketut Candra Arsadi, menyoroti urgensi pembangunan infrastruktur pelindung pantai.

Kondisi alam yang tidak bersahabat ini juga membawa dampak signifikan terhadap sektor ekonomi lokal, terutama bagi mereka yang bergantung pada aktivitas perdagangan di sekitar pantai. Mata pencaharian warga kini terancam akibat kondisi tersebut.

Desak Nyoman Suarniti (56), warga lainnya, mengungkapkan kesedihannya karena harus menutup total warung yang menjadi sumber penghasilan utamanya. "Warung saya ini jadinya tidak bisa buka lagi. Ini satu-satunya mata pencaharian saya," kata Desak Nyoman Suarniti.