BADUNG, INFOTREN.ID – Video yang memperlihatkan dua kelompok wisatawan asing terlibat baku hantam di kawasan Canggu, Badung, kembali viral di media sosial. Hingga kini belum diketahui secara pasti apa yang menjadi pemicu perkelahian tersebut dan aparat berwenang juga belum menyampaikan keterangan resmi mengenai kronologi kejadian.

Meski demikian, video tersebut kembali memicu perdebatan publik mengenai meningkatnya perilaku sebagian wisatawan asing yang dinilai semakin meresahkan di sejumlah kawasan wisata Bali.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai insiden yang melibatkan warga negara asing berulang kali menjadi perhatian. Mulai dari berkendara secara ugal-ugalan, membuat keributan di tempat hiburan malam, hingga melakukan tindakan yang dianggap tidak menghormati norma, budaya, dan aturan hukum di Pulau Dewata.

Fenomena tersebut terjadi di tengah upaya pemerintah daerah yang terus mendorong Bali menjadi destinasi pariwisata berkualitas atau quality tourism, yaitu pariwisata yang mengedepankan kualitas wisatawan dibanding sekadar mengejar jumlah kunjungan. Pemerintah Provinsi Bali juga telah menerapkan berbagai kebijakan, termasuk pungutan wisatawan asing dan penerbitan pedoman perilaku bagi wisatawan internasional untuk menjaga ketertiban serta menghormati budaya lokal.

Pengamat pariwisata Bali dan juga Pendiri Hey Bali, Gregorius Adrianus Sinantong (Latto), menilai video viral tersebut seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi pengawasan di kawasan wisata, khususnya daerah yang identik dengan kehidupan malam.

"Mayoritas wisatawan asing datang ke Bali untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan keramahan masyarakat. Mereka menghormati aturan yang berlaku. Namun, tindakan segelintir orang yang mabuk, membuat keributan, atau melakukan kekerasan justru merusak citra jutaan wisatawan lainnya yang berperilaku baik," kata Latto.

Menurutnya, Bali tidak boleh membiarkan munculnya persepsi internasional bahwa siapa pun dapat datang ke pulau ini lalu bertindak semaunya tanpa konsekuensi hukum.

"Keramahtamahan masyarakat Bali jangan sampai disalahartikan sebagai kelemahan. Bali tetap merupakan wilayah hukum Indonesia. Siapa pun, tanpa memandang kewarganegaraan, harus menghormati budaya lokal, mematuhi peraturan, dan menjaga ketertiban umum," ujarnya.

Latto menambahkan, pengawasan di kawasan hiburan malam juga perlu diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, kepolisian, pelaku usaha, dan pengelola tempat hiburan.