INFOTREN.ID - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah meninjau berbagai opsi respons militer yang dapat diambil terhadap Iran. Langkah ini akan dipertimbangkan apabila gencatan senjata yang berlaku saat ini gagal mencapai kesepakatan yang diinginkan.

Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif terhadap potensi kegagalan negosiasi yang sedang berlangsung antara kedua belah pihak. Opsi militer tersebut dipersiapkan sebagai jalur alternatif jika jalur diplomatik menemui jalan buntu.

Rencana awal yang sedang dikaji oleh Washington disebutkan berfokus pada penargetan individu-individu senior di Iran. Individu-individu ini diyakini oleh pihak AS sebagai penghambat utama dalam proses negosiasi yang sensitif tersebut.

Menurut informasi yang diterima oleh CNN pada hari Jumat, 24 April 2026, opsi serangan terhadap para pemimpin militer Iran tertentu sedang menjadi bahan pertimbangan serius. Informasi ini didapatkan dari sumber-sumber yang mengetahui secara langsung pembahasan internal tersebut.

Salah satu nama yang disebut dalam potensi penargetan tersebut adalah Ahmad Vahidi, yang saat ini memegang jabatan sebagai panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Penargetan ini mengindikasikan eskalasi potensi respons jika situasi memburuk.

Dilansir dari CNN, salah satu skenario yang sedang dipertimbangkan secara cermat oleh pemerintah AS melibatkan serangan terarah terhadap figur-figur kunci dalam struktur militer Iran. Hal ini menjadi bagian dari kajian strategis yang sedang dilakukan.

Lebih lanjut, sumber-sumber tersebut mengonfirmasi bahwa Ahmad Vahidi, yang merupakan komandan tertinggi IRGC, masuk dalam daftar potensi target jika opsi militer tersebut akhirnya diaktifkan. Ini menjadi fokus utama dalam pembahasan strategi AS.

Di samping perkembangan signifikan terkait dinamika AS-Iran ini, terdapat beberapa berita internasional lain yang juga menarik perhatian pembaca detikcom pada hari yang sama, yaitu Jumat, 24 April 2026.

"Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan, melibatkan serangan terhadap para pemimpin militer Iran tertentu," ujar sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, sebagaimana dikutip dari CNN.