INFOTREN.ID - Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Nganjuk baru-baru ini kembali menyelenggarakan dua agenda adat yang berkesinambungan, yakni Kirab Boyong Natapraja bersamaan dengan perhelatan Sedekah Bumi. Acara akbar ini bukan sekadar perayaan musiman biasa yang digelar rutin setiap tahun.

Kegiatan tersebut memiliki akar historis yang sangat mendalam dan signifikan bagi identitas serta memori kolektif warga Kabupaten Nganjuk. Ini menjadi pengingat akan perjalanan panjang sejarah daerah mereka.

Secara spesifik, upacara adat yang digelar ini merupakan manifestasi nyata dari upaya pelestarian sejarah penting terkait perpindahan lokasi pusat pemerintahan Kabupaten Nganjuk di masa lampau. Prosesi ini menghidupkan kembali momen krusial tersebut.

Lebih lanjut, perhelatan akbar ini juga terintegrasi erat dengan ritual ungkapan rasa syukur yang mendalam. Rasa syukur tersebut ditujukan atas limpahan rezeki dan keberkahan yang dianugerahkan oleh alam semesta kepada masyarakat setempat.

Warga Nganjuk menunjukkan komitmen kolektif yang kuat terhadap warisan budaya dengan rutin menggelar ritual sakral ini. Hal ini memastikan bahwa nilai-nilai luhur tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi penerus bangsa.

Pelaksanaan kirab ini ditandai dengan partisipasi yang sangat aktif dari berbagai lapisan masyarakat Nganjuk, tanpa memandang latar belakang sosial mereka. Tingginya partisipasi ini mencerminkan rasa kepemilikan yang besar terhadap tradisi ini.

Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, kegiatan akbar berupa Kirab Boyong Natapraja bersamaan dengan perhelatan sedekah bumi kembali diselenggarakan oleh masyarakat Kabupaten Nganjuk.

Disebutkan bahwa acara adat ini bukan sekadar perayaan musiman, melainkan memiliki makna historis yang mendalam bagi warga setempat, sebagaimana disampaikan oleh penyelenggara acara.

Lebih jauh, upacara adat ini secara spesifik merupakan bentuk nyata pelestarian sejarah penting mengenai perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Nganjuk di masa lampau, demikian konteks historis yang diangkat.