INFOTREN.ID - Setiap era melahirkan pahlawannya, bukan dengan pedang dan perisai, melainkan dengan akal dan nurani. 
Di kampus perjuangan yang bergelora, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), terukir sebuah nama yang berbisik kepada alam. 
Ia adalah Prof. Dr. techn. Endry Nugroho Prasetyo S.Si., M.T., seorang profesor ke-228 yang tak hanya mengajar, tetapi juga mengabdi pada masa depan. 
Ini adalah sebuah kisah inspiratif tentang tekad yang memeluk bumi, sebuah panggilan untuk menghentikan derap langkah yang merusak dan beralih ke simfoni yang harmonis.
Jejak langkah risetnya bagai sajak yang merangkai mimpi, sebuah janji untuk menciptakan perubahan yang lebih baik.

Goresan Luka Katalis Konvensional
Dunia industri berputar dengan deru mesin, mencampakkan jejak-jejak perih. Katalis konvensional, pendorong laju peradaban, seringkali terbuat dari logam-logam yang meninggalkan luka mendalam bagi ibu pertiwi. 
Ia bagai nyanyian pilu yang terdengar dari sungai yang keruh dan udara yang memburuk. Namun, di tengah kepiluan itu, harapan muncul dari sebuah riset yang menjanjikan.
Profesor Endry melihat sebuah jalan lain, sebuah goresan pena yang penuh makna, yaitu biokatalis.
“Enzim dapat menjadi alternatif penyelesain dari kerusakan lingkungan akibat katalis konvensional,” terangnya dilansir dari laman resmi ITS, mengubah narasi kehancuran menjadi sebuah ode pemulihan.

Enzim, Tangan Ajaib Sang Pencipta
Ia menyelami lautan mikroorganisme, mencari jawaban di balik jutaan molekul-molekul hidup pemberian Illahi.
Di sana, ia menemukan enzim laccase, chymosin, dan asparaginase yang bagai tangan-tangan ajaib yang mampu mempercepat reaksi tanpa meninggalkan jejak racun. 
Biokatalis ini bukan sekadar formula kimia biasa, melainkan cermin dari kearifan alam itu sendiri. 
“Contoh alami enzimatik ada pada hubungan terumbu karang dan hewan laut yang mengeluarkan urine,” ungkapnya, memberikan bukti nyata bahwa solusi telah lama ada di sekitar kita.
Penemuan ini bukan hanya teori, melainkan aksi nyata, seperti keberhasilannya dalam menurunkan toksin rokok hingga 40 persen dan mempercepat proses di industri tekstil.
Mengabdi, Menyentuh Jiwa
Pengabdiannya tak berhenti di laboratorium saja. Ia membawa ilmu ke pelosok negeri, ke Pulau Poteran, Sumenep, tanah kelahirannya, tempat ia menyediakan pupuk organik yang kaya akan mikroba.
Aksi nyata ini bagai hujan yang membasahi tanah yang kering, menumbuhkan harapan baru bagi petani.
Ia tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga menumbuhkan semangat, menyentuh jiwa-jiwa yang haus akan perubahan.
Dedikasinya bukan sekadar profesi belaka, melainkan sebuah panggilan suci yang datang dari lubuk sanubarinya yang paling dalam.

Dedikasi Abadi untuk Masa Depan
Pengukuhan Profesor Endry bukan hanya pencapaian personal, melainkan manifestasi dari cita-cita luhur pendidikan.
Ia menyinggung poin-poin SDGs ITS, rumah keduanya, khususnya pendidikan berkualitas dan inovasi.
Baginya, pendidikan adalah bejana untuk mencetak insan-insan yang pro terhadap sesama dan lingkungan sekitar.
Sebuah pengakuan jujur datang dari dirinya yang menegaskan kembali tujuan hidupnya.

“Saya mendedikasikan diri saya untuk pro mahasiswa dan ingin mengubah nasib mereka,” tutupnya menegaskan, sebuah sumpah yang melampaui batas waktu.
Ini adalah sebuah kisah inspiratif yang mengingatkan kita, bahwa keunggulan sejati adalah ketika ilmu dan nurani bersatu untuk menari bersama alam, menciptakan masa depan yang lebih hijau, lebih adil, dan lebih berdaya. (*)

iklan sidebar-1