INFOTREN.ID - Ketegangan di perbatasan utara Israel kembali meningkat tajam menyusul serangan roket masif yang dilancarkan dari Lebanon selatan. Aksi ini dilakukan oleh kelompok Hizbullah, yang secara terbuka didukung oleh Iran.

Serangan ini terjadi pada hari Jumat, 10 April waktu setempat, menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang terus berlarut-larut di kawasan tersebut. Dampak langsung serangan ini terlihat jelas di wilayah Israel.

Militer Israel mengonfirmasi bahwa jumlah proyektil yang ditembakkan oleh militan Hizbullah mencapai angka sekitar 30 unit roket. Roket-roket ini dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan.

Kerusakan tersebut mencakup berbagai infrastruktur, khususnya menghantam beberapa bangunan dan merusak sejumlah kendaraan milik warga atau fasilitas di zona terdampak. Hal ini menambah daftar panjang kerugian akibat baku tembak yang terus berlanjut.

Sebagai respons langsung atas gempuran tersebut, sistem peringatan dini diaktifkan secara luas di seluruh wilayah Israel bagian utara. Sirene serangan udara meraung-raung sebagai tanda bahaya.

Imbas serangan roket itu, seperti dilansir AFP, Sabtu (11/4/2026), sirene peringatan serangan udara diaktifkan di seluruh wilayah Israel bagian utara, yang berbatasan dengan wilayah Lebanon bagian selatan.

Aktivasi sirene ini menunjukkan tingkat ancaman yang dirasakan oleh otoritas Israel, mengingat kedekatan geografis antara area peluncuran dan target serangan. Wilayah utara menjadi zona konflik aktif.

Sementara itu, situasi di garis depan tetap tegang, di mana Pasukan militer Israel dan militan Hizbullah terus terlibat dalam aksi saling baku tembak. Pertukaran tembakan ini berlangsung intensif di area perbatasan.

Kondisi ini terjadi meskipun terdapat upaya internasional untuk mempertahankan gencatan senjata yang lebih luas yang melibatkan Iran sebagai salah satu aktor kunci kawasan. Baku tembak ini mengindikasikan rapuhnya kesepakatan damai.