INFOTREN.ID - Keputusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memberhentikan empat stafnya telah memicu kontroversi publik di Kupang, NTT, pada Senin, 18 Mei 2026. Keempat staf tersebut merasa diberhentikan tanpa alasan yang jelas setelah mengabdi selama bertahun-tahun di organisasi tersebut.

Empat staf yang diberhentikan tersebut adalah Maria Goreti Kara (staf pembantu bendahara, 22 tahun pengabdian), Suyani Sinlae (staf bidang administrasi dan organisasi, 15 tahun), Yasinta Sanggu Doa (14 tahun), dan David Hadjoh (staf kebersihan, 5 tahun). Mereka menyampaikan keberatan atas proses pemecatan yang dinilai sepihak tersebut.

Suyani Sinlae mengungkapkan bahwa proses pemberhentian dilakukan tanpa penjelasan resmi mengenai dasar pemecatan mereka. "Waktu itu kami tanya apa alasannya, tetapi mereka tidak menjawab. Mereka bilang alasan itu tidak bisa mereka sampaikan," ujar Suyani, yang akrab disapa Yani, saat memberikan keterangan di Kupang.

Yani menduga kuat bahwa pemecatan ini memiliki agenda politik terselubung, terutama karena posisi mereka digantikan oleh individu yang memiliki kedekatan dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum KONI NTT. Ia menyebutkan bahwa staf baru tersebut berasal dari kader Partai Golkar hingga tim sukses Laka Lena saat menjabat sebagai anggota DPR RI.

"Mereka sendiri juga menceritakan bahwa mereka bekerja di Golkar dan ada yang menjadi tim sukses Abang Melki semasa masih DPR RI," tambah Yani, yang pernah menjadi atlet kempo perwakilan NTT di ajang PON 2000 dan 2004.

Sementara itu, Maria Goreti Kara, yang telah mengabdi selama 22 tahun sebagai staf pembantu bendahara, menyoroti kinerjanya yang selama ini baik. Ia mengungkapkan bahwa gajinya selama ini sesuai Upah Minimum Provinsi (UMP), yaitu Rp 2,4 juta per bulan, dan tidak pernah ada temuan kinerja buruk.

David Hadjoh, staf kebersihan yang kini harus menanggung beban keluarga dengan tiga anak, mengungkapkan kepasrahannya atas keputusan tersebut. "Saya hanya rakyat biasa yang membiayai hidup keluarga dengan bekerja sebagai cleaning service. Apalagi saya kepala keluarga yang harus hidupkan tiga anak dan istri," ungkap David.

Menanggapi polemik ini, Gubernur NTT sekaligus Ketua KONI NTT, Laka Lena, memberikan klarifikasi bahwa keputusan tersebut murni mengenai penyegaran organisasi. Beliau menegaskan bahwa faktor kedekatan pribadi tidak menjadi pertimbangan dalam proses pergantian staf.

"Mau dekat atau jauh, yang penting kalau dia bagus kerjalah. Intinya siapapun yang bagus masuk dan mainkan," tegas Laka Lena.