INFOTREN.ID - Kawasan Timur Tengah kembali berada di bawah bayang-bayang ketegangan tinggi menyusul perkembangan terbaru dalam konflik antara Iran dan aliansi Barat. Sebelumnya, Selat Hormuz sempat menjadi ajang konflik ketika Iran melakukan blokade di tengah memanasnya perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Situasi semakin memburuk setelah upaya perundingan diplomatik antara pihak-pihak terkait dilaporkan telah berakhir tanpa mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak. Kondisi ini memicu respons balasan yang signifikan dari Washington.

Kini, setelah kebuntuan diplomasi tersebut, giliran Amerika Serikat yang memberikan ancaman serius terhadap jalur pelayaran strategis tersebut. Washington mengisyaratkan kemungkinan untuk memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan lanjutan.

Perlu dicatat bahwa Iran sendiri telah mengambil langkah signifikan dalam mengontrol pergerakan di selat tersebut selama kurun waktu beberapa minggu terakhir. Tindakan ini dilakukan setelah kampanye pengeboman yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah republik Islam tersebut.

"Iran telah secara efektif memblokade Selat Hormuz selama berminggu-minggu, sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye pengeboman terhadap republik Islam tersebut lebih dari enam minggu lalu," demikian keterangan yang muncul mengenai situasi terkini dilansir dari sumber terkait.

Meskipun demikian, kebijakan blokade yang diterapkan oleh Teheran tidak bersifat total dan menyeluruh bagi semua pihak yang melintas. Iran menunjukkan diskresi tertentu dalam mengizinkan atau melarang lalu lintas maritim di perairan krusial tersebut.

Teheran diketahui masih memberikan izin bagi kapal-kapal yang berlayar di bawah bendera negara-negara sahabat untuk dapat melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan berarti. Ini menunjukkan adanya upaya untuk membatasi dampak ekonomi pada sekutu mereka.

Sebaliknya, kapal-kapal yang memiliki afiliasi dengan negara-negara yang dianggap sebagai agresor utama atau pendukung mereka akan dilarang keras untuk melewati jalur perairan tersebut, kata sumber tersebut.

Ancaman balasan dari AS ini jelas akan meningkatkan risiko eskalasi militer lebih lanjut di salah satu jalur suplai energi terpenting dunia tersebut. Dunia internasional terus memantau perkembangan di kawasan tersebut dengan cemas.