INFOTREN.ID - Transformasi digital dalam dunia pendidikan Indonesia kembali mendapat sorotan positif dari mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim. Beliau secara tegas menyampaikan pandangannya mengenai dampak nyata dari kebijakan pengadaan perangkat Chromebook di sekolah-sekolah.
Perangkat Chromebook yang didistribusikan ke berbagai daerah tersebut, menurut Nadiem, telah membuktikan kemampuannya dalam mengubah paradigma pengajaran dan pembelajaran di kelas. Hal ini didasarkan pada observasi langsung terhadap implementasi di lapangan.
Fokus utama penegasan Nadiem adalah menepis segala anggapan atau tuduhan bahwa investasi besar pada Chromebook tersebut merupakan bentuk pemborosan atau merugikan keuangan negara. Bukti konkret menjadi sanggahan utama atas isu sensitif tersebut.
"Kesaksian para guru dari Aceh hingga Papua bukti Chromebook mengubah pola belajar-mengajar," tegas Nadiem Makarim, menyoroti cakupan geografis kesaksian yang dihadiri. Kesaksian ini menjadi landasan kuat bagi klaim keberhasilan program.
Pola belajar mengajar yang dimaksud mencakup peningkatan interaksi digital antara pendidik dan peserta didik, serta adaptasi terhadap materi pembelajaran berbasis teknologi. Perubahan ini dinilai krusial di era digital saat ini.
Lebih lanjut, Nadiem menggarisbawahi bahwa masukan positif yang datang dari para pendidik di berbagai pelosok negeri berfungsi sebagai bantahan langsung terhadap narasi negatif. Kesaksian ini memiliki bobot yang signifikan dalam evaluasi kebijakan.
"Kesaksian mereka juga menepis kebijakan Chromebook merugikan negara," tambah Nadiem Makarim, menegaskan bahwa dampak positif kurikuler lebih besar daripada spekulasi kerugian finansial. Ini menunjukkan keberhasilan dari sisi efektivitas program.
Keseluruhan kesaksian dari ujung barat hingga timur Indonesia ini menjadi representasi kolektif bahwa kebijakan pengadaan perangkat keras tersebut telah memberikan manfaat substansial bagi ekosistem pendidikan nasional. Program ini telah melewati uji coba lapangan yang luas.
Dikutip dari berbagai sumber pemberitaan mengenai pernyataan publiknya, Nadiem menekankan bahwa data empiris dari guru di lapangan adalah barometer paling akurat untuk mengukur keberhasilan sebuah inisiatif kementerian.