INFOTREN.ID - Otoritas Iran secara resmi telah melaksanakan hukuman mati terhadap seorang pria yang dinyatakan bersalah atas tindakan sabotase di ibu kota Teheran. Terpidana terbukti terlibat dalam aksi pembakaran sebuah masjid besar saat gelombang unjuk rasa melanda negara tersebut.

Pria tersebut juga menghadapi dakwaan berat terkait kolaborasi dengan badan intelijen asing, yakni Mossad dari Israel dan pihak Amerika Serikat (AS). Aksi ini dilakukan pada masa unjuk rasa yang berlangsung sesaat sebelum pecahnya konflik bersenjata di wilayah tersebut.

Informasi mengenai pelaksanaan hukuman gantung ini dipublikasikan melalui situs web resmi otoritas kehakiman Iran, Mizan Online. Kabar mengenai tindakan tegas pemerintah Iran ini kemudian tersebar luas setelah dilansir dari AFP pada Selasa (21/4/2026).

"Amir Ali Mirjafari merupakan salah satu elemen bersenjata yang berkolaborasi dengan pihak musuh untuk mencoba membakar Masjid Agung Gholhak," ujar Mizan Online.

Dalam laporan resminya, pihak berwenang menyebutkan bahwa terpidana memiliki peran strategis dalam jaringan intelijen asing. Amir Ali Mirjafari dituding menjadi otak di balik berbagai aktivitas yang mengancam stabilitas keamanan nasional.

"Sosok tersebut adalah pemimpin aktivitas antikeamanan jaringan Mossad di area tersebut dan telah menjalani hukuman gantung pada pagi ini," kata Mizan Online.

Eksekusi yang dilakukan pada Selasa pagi tersebut menjadi puncak dari proses hukum terhadap individu yang dianggap sebagai kaki tangan musuh. Pemerintah Iran menegaskan bahwa tindakan ini adalah bentuk perlindungan terhadap kedaulatan negara dari intervensi asing.

Selama periode kerusuhan, Masjid Agung Gholhak menjadi salah satu sasaran perusakan yang memicu kemarahan publik. Penangkapan Mirjafari dilakukan setelah serangkaian penyelidikan intensif yang mengaitkan dirinya dengan operasi intelijen luar negeri.

Kasus ini mempertegas ketegangan yang terus berlanjut antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat di panggung geopolitik. Teheran secara konsisten menuduh badan intelijen Barat dan Israel berada di balik kerusuhan domestik yang terjadi di dalam negeri.