INFOTREN.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah pihak Iran secara terbuka menyatakan keraguan mendalam terhadap niat baik Amerika Serikat di meja perundingan. Langkah diplomasi yang diupayakan oleh berbagai pihak tampaknya menemui jalan buntu seiring dengan meningkatnya ancaman militer dari pihak Washington.

Pernyataan tegas ini muncul di tengah upaya mediasi yang sedang dijalankan oleh Pakistan untuk memfasilitasi putaran kedua pembicaraan antara Teheran dan Washington. Upaya damai tersebut dilakukan tepat sebelum berakhirnya masa gencatan senjata yang dijadwalkan pada minggu ini.

Meskipun batas waktu gencatan senjata kian menipis, Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa pihaknya tidak akan goyah. Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi secara eksplisit menyampaikan bahwa Iran tidak lagi mempercayai skema negosiasi yang diajukan oleh Amerika Serikat.

Sikap keras ini diambil sebagai bentuk perlawanan terhadap rangkaian ancaman yang terus dilontarkan oleh Amerika Serikat terhadap kedaulatan wilayah Iran. Mousavi menekankan bahwa tujuan negosiasi yang ditawarkan pihak lawan dianggap tidak tulus dalam mengakhiri konfrontasi AS-Israel.

"Sebagaimana yang disampaikan oleh Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, kami tidak menaruh kepercayaan pada negosiasi dengan Anda, namun kami sangat percaya pada kekuatan Tuhan, dukungan rakyat, dan kegigihan para pejuang," ujar Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi.

Pernyataan dari petinggi militer Iran tersebut menggambarkan betapa dalamnya krisis kepercayaan antara kedua negara yang telah berseteru selama beberapa dekade. Fokus Iran kini beralih sepenuhnya pada penguatan internal dan kesiapan tempur para pejuang di lapangan.

Informasi mengenai penolakan jalur diplomasi dan kesiapan Iran untuk merespons ancaman ini dilansir dari media Iran, Press TV, pada Selasa (21/4/2026). Laporan tersebut menyoroti bagaimana Teheran tetap pada pendiriannya meskipun tekanan internasional terus meningkat.

Situasi di lapangan saat ini diprediksi akan semakin pelik mengingat kedua belah pihak masih menunjukkan sikap yang saling berseberangan. Tidak ada tanda-tanda deeskalasi meskipun mediator regional telah berupaya keras untuk membawa kedua pihak ke meja perundingan.

Iran kini dikabarkan tengah bersiap untuk memberikan respons yang jauh lebih keras apabila Amerika Serikat benar-benar merealisasikan ancaman militernya di masa mendatang. Kekuatan militer IRGC tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga stabilitas nasional dari intervensi asing.