INFOTREN.ID - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih setelah Washington mengumumkan rencana untuk memberlakukan blokade maritim penuh. Keputusan ini diambil menyusul kegagalan putaran terakhir pembicaraan damai yang berlangsung di Pakistan.
Keputusan drastis ini secara spesifik ditujukan sebagai respons atas penolakan Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya yang terus berlanjut. Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam tekanan diplomatik dan militer yang diarahkan kepada Teheran.
Pengumuman resmi mengenai blokade ini disampaikan oleh pihak militer Amerika Serikat pada hari Minggu (12/4) waktu setempat. Keputusan ini datang meskipun kedua belah pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata pada hari Rabu sebelumnya.
Gencatan senjata tersebut sejatinya bertujuan untuk meredakan konflik selama enam minggu yang melibatkan AS-Israel melawan Iran. Namun, eskalasi baru ini menunjukkan bahwa upaya diplomasi untuk menstabilkan kawasan gagal total.
"Blokade akan diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman," kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan mereka.
Informasi ini pertama kali disiarkan oleh kantor berita AFP pada hari Senin (13/4/2026), menggarisbawahi urgensi situasi yang berkembang pesat di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, Komando Pusat AS menegaskan bahwa implementasi penuh dari blokade maritim tersebut dijadwalkan untuk dimulai pada hari Senin (13/4) tepat pukul 14.00 GMT. Hal ini memberikan waktu persiapan yang sangat singkat bagi lalu lintas maritim internasional.
Washington secara eksplisit menyalahkan Republik Islam Iran atas kegagalan pembicaraan damai tersebut, mengaitkannya langsung dengan keengganan Teheran untuk melepaskan ambisi nuklirnya yang menjadi isu utama.