INFOTREN.ID - Perkembangan terkini menunjukkan peningkatan signifikan pada jumlah korban jiwa akibat wabah virus Ebola yang melanda wilayah Afrika Tengah per hari Rabu, 20 Mei 2026. Peningkatan ini berbarengan dengan adanya tindakan evakuasi medis terhadap dua warga negara Amerika Serikat yang terinfeksi virus mematikan tersebut ke benua Eropa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyampaikan kekhawatiran terkait keterbatasan pasokan vaksin yang dibutuhkan saat ini. Diperkirakan bahwa stok vaksin yang memadai untuk mengatasi penyebaran virus berbahaya ini baru akan tersedia dalam hitungan beberapa bulan mendatang.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, telah memaparkan data terbaru mengenai distribusi kasus infeksi yang mayoritas terpusat di Republik Demokratik Kongo (DRC). Wilayah tersebut menjadi episentrum utama penyebaran virus.
"Kami memperkirakan angka-angka tersebut akan terus meningkat. Kami tahu bahwa skala epidemi di DRC jauh lebih besar," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh otoritas kesehatan internasional adalah bahwa wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, yang merupakan varian langka. Hal ini berbeda dengan wabah sebelumnya yang disebabkan oleh strain Zaire, sehingga belum tersedia vaksin atau metode pengobatan resmi yang teruji.
Strain Bundibugyo memiliki tingkat fatalitas kasus yang cukup mengkhawatirkan, berkisar antara 30 persen hingga 50 persen dari total kasus terkonfirmasi. Kondisi ini diperparah oleh adanya dugaan keterlambatan deteksi awal yang mungkin sudah berlangsung selama beberapa bulan di tengah zona konflik yang sulit dijangkau.
Sebagai respons cepat, penanganan medis darurat berskala internasional segera diinisiasi dengan memindahkan dua tenaga kesehatan asal Amerika Serikat yang terinfeksi. Kedua individu tersebut dievakuasi menuju fasilitas isolasi khusus di Jerman dan Ceko.
Salah satu tenaga kesehatan tersebut, Dr. Peter Stafford, yang tertular saat bertugas di Kongo, kini menjalani isolasi di Rumah Sakit Charité di Berlin. Sementara itu, satu dokter lainnya ditempatkan di Rumah Sakit Bulovka yang berlokasi di Praha, menggunakan kotak isolasi transportasi khusus.
Meskipun situasi ini menimbulkan keprihatinan serius, WHO menilai bahwa risiko penyebaran menjadi pandemi global secara keseluruhan masih dinilai sangat rendah. Namun, dampak parah yang ditimbulkan di kawasan regional Afrika Tengah memaksa WHO untuk menetapkan status darurat kesehatan internasional.