INFOTREN.ID - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Deddy Sitorus, angkat bicara mengenai kritik yang disampaikan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terkait frekuensi PDIP dalam memberikan komentar mengenai dinamika Presiden Joko Widodo (Jokowi). Respons ini muncul sebagai tanggapan langsung atas keheranan PSI.
Permasalahan ini terjadi karena adanya perbedaan pandangan fundamental mengenai fokus politik kedua partai tersebut dalam konteks elektoral yang sedang berlangsung saat ini. PSI sebelumnya sempat mempertanyakan mengapa PDIP dinilai masih terlalu fokus mengomentari figur mantan ketua umumnya.
Hal ini menjadi sorotan karena menurut PSI, Presiden Jokowi telah menyelesaikan masa kepemimpinannya di partai banteng moncong putih tersebut. Dengan kata lain, fokus PDIP dianggap tidak sesuai dengan posisi politik terkini.
Deddy Sitorus kemudian memberikan penilaian tajam terhadap respons yang dilontarkan oleh Ketua DPP PSI, Bestari Barus. Menurut pandangan Deddy, respons PSI tersebut justru memperlihatkan adanya fokus yang keliru dalam arena politik nasional saat ini.
"Kami dituding hanya sibuk mencari panggung," ujar Deddy Sitorus, mengutip inti dari tudingan yang dilontarkan oleh pihak PSI kepadanya dan partainya.
Deddy Sitorus menegaskan bahwa respons yang disampaikan oleh PSI tersebut menunjukkan adanya upaya untuk menarik perhatian publik secara luas. Ia melihat bahwa manuver ini dilakukan dengan cara menyeret nama partai lain, yaitu PDIP, ke dalam diskursus mereka.
Prancis Amankan Tiket Perempat Final Piala Dunia 2026 Usai Taklukkan Perlawanan Sengit Paraguay
Dikutip dari HOTNEWS.ID, Deddy Sitorus menginterpretasikan bahwa manuver politik PSI tersebut lebih mementingkan upaya pencitraan ketimbang membahas isu substantif. Hal ini mengindikasikan adanya strategi politik tertentu yang sedang dijalankan oleh PSI.
Secara keseluruhan, polemik ini menyoroti bagaimana dua partai politik menyikapi posisi Presiden Jokowi pasca masa jabatannya di struktur partai. PDIP merasa perlu merespons dinamika yang ada, sementara PSI mempertanyakan urgensi respons tersebut.