INFOTREN.ID - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melontarkan kecaman keras terhadap keputusan parlemen Israel, Knesset, mengenai penerapan hukuman mati bagi tahanan Palestina. Sikap ini menunjukkan ketegangan diplomatik yang kembali memanas antara Ankara dan Tel Aviv.

Keputusan Knesset tersebut dinilai Erdogan sebagai tindakan yang sangat diskriminatif dan berlandaskan unsur rasisme yang mendalam. Erdogan melihat langkah ini sebagai kemunduran besar dalam isu hak asasi manusia di kawasan tersebut.

Erdogan secara eksplisit menyamakan kebijakan hukuman mati yang akan diterapkan Israel tersebut dengan kebijakan mengerikan yang pernah dilakukan oleh Adolf Hitler terhadap populasi Yahudi di masa rezim Nazi. Perbandingan historis ini menggarisbawahi tingkat kemarahan pemerintah Turki.

Dalam pidatonya, Erdogan menyatakan bahwa kebijakan baru Israel ini merupakan bentuk penindasan yang lebih buruk dibandingkan sistem yang pernah ada sebelumnya. Hal ini disampaikannya saat berpidato dalam Konferensi Internasional Partai Politik Asia (ICAPP) di hadapan Sayap Perempuan.

"Apa yang sedang dilakukan adalah diskriminasi; itu adalah rasisme," tegas Erdogan, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Sabtu (11/4/2026). Pernyataan ini menekankan fokusnya pada aspek moral dan etika dari keputusan parlemen Israel tersebut.

Lebih lanjut, ia membandingkan situasi tersebut dengan sejarah kelam di Afrika Selatan. Erdogan menambahkan, "Itu berarti menerapkan di Israel, versi yang lebih buruk dari rezim apartheid yang digulingkan di Afrika Selatan pada tahun 1994," ujarnya.

Erdogan kemudian mengajukan pertanyaan retoris yang tajam untuk menyoroti inkonsistensi kebijakan Israel. "Apakah ada perbedaan mendasar antara kebijakan mengerikan Hitler terhadap orang-orang Yahudi dan keputusan yang telah diadopsi oleh parlemen Israel dengan penuh gegap gempita?" tanyanya dalam pernyataan tersebut.

Kecaman keras ini disampaikan Erdogan dalam pertemuan penting tersebut, memberikan sorotan internasional terhadap implementasi hukuman mati yang kontroversial tersebut.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: News.detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.