INFOTREN.ID - Bayangkan jika harapan hidup seseorang bergantung pada uluran tangan negara, namun tiba-tiba tangan itu menarik diri. Itulah yang kini dirasakan oleh ratusan pasien talasemia di Indonesia. Sebuah ironi mencengangkan terjadi ketika BPJS Kesehatan menonaktifkan kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI), bukan hanya pasien gagal ginjal yang menjerit, tetapi juga 673 pasien talasemia yang mayoritas adalah anak-anak! Apa yang sebenarnya terjadi?

Talasemia: Ketika Nafas Anak Bangsa Tergantung Infus dan Transfusi

Talasemia, penyakit kelainan darah genetik yang membutuhkan perawatan rutin dan berkelanjutan, kini menjadi momok yang menghantui ratusan keluarga di Indonesia. Bagaimana tidak, tanpa infus dan transfusi darah secara berkala, kondisi kesehatan pasien talasemia bisa memburuk dengan cepat, bahkan berujung pada kematian.

dilansir dari Bloomberg Technoz (9/2), Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti bahwa dari ratusan ribu orang yang masuk kategori penyakit katastropik dengan status PBI, terdapat 673 pasien talasemia yang kepesertaannya telah dinonaktifkan. Sebuah angka yang sangat memprihatinkan!

"Data BPJS Kesehatan menunjukkan terdapat 120.742 orang yang masuk kategori penyakit katastropik dengan status PBI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 673 pasien talasemia diketahui kepesertaan PBI-nya telah dinonaktifkan,"ujar Budi di Komisi V, DPR, Senin (09/2).

iklan sidebar-1


Menkes Budi Gunadi Sadikin saat konfrensi pers RAPN 2025 di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jumat (16/8/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Alarm dari Senayan: DPR Desak Pemerintah Bertindak!

Dalam rapat bersama Komisi V DPR, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan keprihatinannya. "Data BPJS Kesehatan menunjukkan terdapat 120.742 orang yang masuk kategori penyakit katastropik dengan status PBI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 673 pasien talasemia diketahui kepesertaan PBI-nya telah dinonaktifkan," ujarnya di Komisi V, DPR, Senin (09/02).

Menkes Budi menegaskan bahwa masalah penonaktifan PBI tidak bisa dianggap enteng. Pasalnya, pasien talasemia membutuhkan perawatan jangka panjang dan berkelanjutan. “Mereka harus rutin infus, bahkan ada yang perlu tindakan seperti cuci darah. Kalau kemudian mereka sampai terlewat, risikonya bisa wafat,” tegasnya.