Infotren.id - Film "Sore: Istri dari Masa Depan" karya Yendy Laurens telah mencuri perhatian penonton dengan pendekatan cerita yang sederhana, namun penuh perasaan. Di balik romansa dan keindahan visualnya, satu hal yang paling banyak dipertanyakan setelah menonton film ini adalah ending-nya yang sepi, tenang, tapi membekas dalam. Banyak yang keluar dari bioskop dengan ekspresi kosong, diam, bahkan mungkin air mata yang tertahan. Tapi, apa sebenarnya makna dari ending film ini?
Di bagian akhir film "Sore", penonton melihat Jonathan (karakter yang diperankan Dion Wiyoko), yang selama cerita berkutat dalam lingkaran waktu dan rasa bersalah, akhirnya tidak memilih untuk memperjuangkan cinta secara klise.
Ia tidak melakukan lompatan dramatis ke masa lalu, tidak pula memohon kesempatan kedua secara memaksa. Sebaliknya, Jonathan memilih untuk berhenti. Ia berdamai. Dengan waktu, dengan takdir, dan yang paling penting: dengan dirinya sendiri.
Pilihan ini mengejutkan, karena bukan hal yang lazim dalam film romantis. Tidak ada pelukan penyatuan kembali. Tidak ada dialog besar yang menyelesaikan segalanya. Justru yang ada hanyalah tatapan sunyi dan langkah mundur, yang terasa lebih berat dari seribu kata perpisahan.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Banyak yang menanyakan, jadi mereka enggak bareng, dong? Terus kenapa harus muter-muter time loop kalau ujungnya kayak gitu?
Jawabannya ada pada tema besar film "Sore" ini, bukan tentang memperbaiki masa lalu, tapi tentang memahami dan menerima. Jonathan berkali-kali gagal karena ia terlalu sibuk menebus kesalahan, bukan menyadari akar dari semuanya, yaitu ketidakmampuannya untuk jujur pada diri sendiri dan saling tumbuh bersama Sore.
Time loop bukan mekanisme untuk “memperbaiki”, tapi untuk menyadarkan. Setelah cukup melalui banyaknya “pengulangan kesempatan”, Jonathan akhirnya bisa melihat cinta bukan sebagai sesuatu yang harus selalu dimiliki, tapi cukup dimengerti. Dan di titik itulah, loop berhenti. Karena pelajaran utamanya telah selesai.
Ending film ini seolah tidak memberi kepuasan Konvensional, karena film ini tidak dibuat untuk memuaskan harapan romantis penonton, tapi untuk menyentil kenyataan bahwa hidup sering kali tidak seperti film meski ini memang sebuah film. "Sore" justru menyuguhkan kenyataan pahit yang manis, kadang cinta tidak harus berakhir bersama, tapi bisa berakhir dengan penuh penerimaan.
Ending film "Sore: Istri dari Masa Depan" adalah salah satu penutup cerita paling elegan dan jujur yang pernah disajikan film Indonesia. Ia tidak heboh, tidak manis berlebihan, tapi menyimpan kekuatan emosional yang dalam dan tahan lama.***


