INFOTREN.ID - Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memburuk setelah terjadi serangan udara yang menargetkan area padat penduduk di bagian utara wilayah Palestina tersebut. Serangan ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang signifikan dari kalangan sipil.

Badan pertahanan sipil Gaza mengonfirmasi bahwa sasaran serangan udara Israel adalah sekelompok warga sipil yang sedang berkumpul di lokasi tersebut. Kejadian tragis ini menambah panjang daftar korban konflik di kawasan tersebut.

Total korban jiwa yang terkonfirmasi akibat serangan tersebut mencapai lima orang. Mayoritas korban yang tewas adalah warga sipil tak berdosa.

Tragisnya, di antara lima korban tewas tersebut, terdapat tiga orang anak-anak. Keterlibatan anak-anak sebagai korban sipil selalu menjadi sorotan utama dalam konflik berkepanjangan ini.

Peristiwa ini terjadi meskipun gencatan senjata telah berhasil disepakati pada tanggal 10 Oktober sebelumnya. Kesepakatan damai tersebut tampaknya belum mampu menghentikan spiral kekerasan yang terus melanda wilayah tersebut.

Dilansir AFP pada Kamis, 23 April 2026, ketegangan masih sangat tinggi karena militer Israel dan Hamas saling melontarkan tuduhan mengenai pelanggaran gencatan senjata yang telah disepakati. Kedua belah pihak mengklaim pihak lain yang memicu eskalasi.

Badan pertahanan sipil Gaza, yang juga berfungsi sebagai layanan penyelamatan di bawah otoritas Hamas, mengeluarkan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. Pernyataan ini menggarisbawahi detail lokasi dan jumlah korban.

"Lima warga Palestina, termasuk tiga anak, tewas dalam serangan udara Israel yang menargetkan sekelompok warga sipil di dekat masjid Al-Qassam di Beit Lahia," kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Serangan udara tersebut secara spesifik dilaporkan menargetkan area dekat masjid Al-Qassam yang berlokasi di Beit Lahia, Gaza bagian utara. Lokasi ini dikenal sebagai area pemukiman padat penduduk.