BALI, INFOTREN - Tren sport tourism terus berkembang di berbagai destinasi dunia, termasuk di Bali. Di tengah tantangan overtourism dan tekanan terhadap lingkungan pariwisata, pelaku industri wisata di Pulau Dewata mulai mendorong konsep perjalanan yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga pengalaman, interaksi budaya, dan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
Salah satu upaya itu hadir melalui Bali Tourism Run 2026 yang akan digelar pada 21 Juni 2026 di kawasan Jatiluwih Rice Terraces, Kabupaten Tabanan, Bali. Event lari yang diinisiasi Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali ini dikemas bukan sekadar lomba olahraga, tetapi juga bagian dari promosi destinasi berbasis keberlanjutan.
Ketua ASITA Bali I Putu Winastra mengatakan pemilihan Jatiluwih dilakukan karena kawasan tersebut memiliki posisi penting dalam peta pariwisata Bali. Selain dikenal sebagai salah satu destinasi sawah terasering paling populer di dunia, Jatiluwih juga telah ditetapkan sebagai lanskap budaya warisan dunia UNESCO.

“Melalui Bali Tourism Run ini, kami ingin menunjukkan bahwa Jatiluwih adalah destinasi berkualitas yang aman, nyaman, dan layak dikunjungi,” kata Winastra dalam konferensi pers di Denpasar.
Menurutnya, event ini juga menjadi bagian dari langkah awal menyambut “100 Years of Bali Tourism” yang akan diperingati pada 2027 mendatang. Karena itu, Bali Tourism Run diproyeksikan menjadi agenda tahunan yang nantinya dapat digelar bergilir di berbagai kabupaten di Bali.
Berbeda dari event lari perkotaan pada umumnya, Bali Tourism Run mengusung konsep experience tourism. Peserta tidak hanya diajak berlari melewati panorama sawah terasering Jatiluwih, tetapi juga menikmati kuliner lokal, mengunjungi desa wisata, hingga berinteraksi dengan pelaku UMKM setempat.
Penyelenggara menyebut pendekatan tersebut penting agar manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya berpusat di kawasan wisata utama, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat desa.
“Kita ingin wisatawan bukan hanya datang lalu pulang, tetapi ikut merasakan pengalaman di destinasi itu sendiri,” ujar Winastra.
Meski mendapat dukungan besar dari berbagai pihak, panitia memilih membatasi jumlah peserta maksimal 2.000 orang. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan daya dukung lingkungan atau carrying capacity kawasan Jatiluwih.
Panitia mengaku tidak ingin mengejar jumlah peserta besar jika berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan dan kawasan warisan budaya dunia tersebut.