DENPASAR, INFOTREN — Bali selama puluhan tahun dikenal dunia sebagai pulau surga. Pantai tropis, resort mewah, budaya yang hidup, hingga industri pariwisata bernilai miliaran rupiah menjadikan Pulau Dewata sebagai salah satu destinasi paling populer di dunia.

Namun di balik wajah pariwisata yang terus tumbuh, Bali kini menghadapi tekanan lain yang semakin sulit disembunyikan: krisis sampah.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Di Balik Penutupan TPA Suwung: Siapa Diuntungkan?” yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali di Denpasar pada 16 Mei 2026.

Diskusi itu mempertemukan pejabat pemerintah, akademisi, aktivis lingkungan, praktisi pengelolaan sampah, hingga masyarakat sipil untuk membedah persoalan mendasar yang kini menghantui Bali: apakah pertumbuhan pariwisata dan pembangunan telah melampaui kemampuan lingkungan pulau ini untuk bertahan?

Ketua IWO Bali, Tri Widiyanti, membuka diskusi dengan menggambarkan kondisi yang dirasakan langsung masyarakat setelah perubahan sistem pengelolaan sampah dan penutupan metode open dumping di TPA Suwung.

“Di wilayah saya, khususnya Denpasar Barat, sampah tidak tersentuh oleh tim DLHK. Kami sudah bayar iuran, tapi tidak ada yang mengangkut,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan besar tanpa kesiapan infrastruktur dan tenaga teknis berisiko melahirkan persoalan sosial baru di tengah masyarakat.

Menurut Tri, persoalan sampah Bali kini bahkan mulai menjadi perhatian internasional karena berkaitan dengan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat.

Pariwisata Tumbuh, Daya Dukung Bali Tertekan

Dalam diskusi tersebut, akademisi Dr. I Nengah Muliarta memaparkan data yang menggambarkan besarnya tekanan terhadap Bali.