INFOTREN.ID - Amerika Serikat secara resmi menghentikan pelaksanaan Operasi Epic Fury yang sebelumnya difokuskan pada pengamanan jalur pelayaran kritis. Keputusan ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi pertahanan dan keamanan maritim yang dilakukan oleh Washington.

Perubahan nama operasi tersebut juga telah dikonfirmasi, di mana Operasi Epic Fury kini bertransformasi menjadi inisiatif yang lebih berfokus pada aspek ekonomi, yaitu Operasi Economic Fury. Langkah ini mengindikasikan upaya untuk memprioritaskan kelancaran perdagangan global.

Selanjutnya, Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan peralihan fokus utama ke program baru yang diresmikan langsung oleh Presiden AS pada hari Minggu lalu. Program baru ini diberi nama resmi Proyek Kebebasan, yang diharapkan menjadi payung bagi operasi keamanan ke depan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, memberikan penjelasan mengenai mekanisme baru yang akan diterapkan dalam mengamankan perairan sensitif tersebut. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap kebutuhan untuk menstabilkan situasi di kawasan vital tersebut.

Dilansir dari sumber berita internasional, Marco Rubio menggarisbawahi bahwa tujuan utama dari perubahan strategi ini adalah untuk memastikan bahwa arus perdagangan dapat kembali berjalan tanpa hambatan berarti. Ini menjadi fokus utama dari implementasi Proyek Kebebasan.

Ia menjelaskan secara rinci mengenai langkah konkret yang akan diambil oleh pemerintahannya dalam beberapa waktu mendatang. "AS pada dasarnya menciptakan gelembung untuk memungkinkan kapal komersial melintasi selat, dilindungi oleh aset angkatan laut dan udara," ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perlindungan akan diberikan secara berlapis, melibatkan kekuatan udara dan laut yang terkoordinasi. Tujuannya adalah menciptakan koridor aman bagi kapal-kapal dagang internasional yang melewati area tersebut.

Salah satu alasan mendasar di balik penghentian Operasi Epic Fury adalah adanya harapan kuat agar kondisi di Selat Hormuz dapat segera kembali menuju normalitas seperti sebelum adanya ketegangan meningkat. Hal ini akan berdampak positif bagi stabilitas harga energi dunia.

Perubahan paradigma dari operasi militer eksplisit menuju kerangka kerja yang lebih berorientasi pada stabilitas ekonomi menunjukkan pendekatan baru AS dalam diplomasi maritim di kawasan Teluk. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi gesekan di perairan internasional.