INFOTREN.ID - Kekhawatiran mengenai ketersediaan bahan bakar jet (avtur) kembali mencuat di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi dampak krisis pasokan bahan bakar yang mungkin melanda industri penerbangan dunia.

Peringatan ini datang seiring dengan perkembangan signifikan dalam dinamika hubungan internasional, khususnya terkait dengan gencatan senjata yang baru-baru ini terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu analisis baru mengenai stabilitas harga dan pasokan energi global.

Menurut pandangan IATA, meskipun ada potensi krisis avtur, situasi yang dihadapi saat ini dinilai belum sebesar guncangan yang dialami selama puncak pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh fundamental pasar yang berbeda, terutama terkait dengan tingkat permintaan penumpang.

Permintaan untuk layanan penerbangan di berbagai belahan dunia diketahui masih menunjukkan kekuatan yang solid dan berkelanjutan. Permintaan yang kuat ini menjadi salah satu penopang utama yang membedakan kondisi saat ini dengan masa-masa sulit pandemi.

Namun, IATA memproyeksikan bahwa jika krisis pasokan bahan bakar benar-benar terjadi, wilayah Asia diprediksi akan menjadi yang pertama merasakan dampak signifikan dari kekurangan avtur tersebut. Proyeksi ini didasarkan pada berbagai analisis pasar energi regional.

Setelah Asia, dampak lanjutan dari potensi krisis avtur tersebut diperkirakan akan mulai merambat ke kawasan Eropa dan Amerika Latin. Langkah mitigasi dini sangat diperlukan oleh maskapai di ketiga wilayah tersebut untuk menjaga operasional tetap berjalan lancar.

Kepala IATA menekankan bahwa meskipun permintaan tetap kuat, ancaman ketersediaan bahan bakar tidak boleh diabaikan oleh para pemangku kepentingan industri. Hal ini penting untuk menjamin kelangsungan mobilitas udara global.

"Krisis bahan bakar jet saat ini tidak sebesar pandemi COVID-19, karena permintaan untuk penerbangan terus kuat," ujar Kepala IATA, memberikan perspektif yang menyeimbangkan antara tantangan pasokan dan permintaan yang tinggi.

Dilansir dari sumber berita tersebut, peringatan mengenai potensi krisis avtur ini muncul seiring dengan adanya perkembangan signifikan dalam hubungan diplomatik, yaitu gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.